LUMAJANG – Kehidupan warga Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur mulai bergeliat dua pekan pascaerupsi Gunung Semeru. Setiap pagi, sebagian pengungsi menengok rumah mereka dan membersihkan sebisanya. Sore hari mereka kembali ke pengungsian. Tak sedikit pula yang menumpang ke rumah keluarga atau kerabat di lokasi yang lebih aman.
Didin, warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo berharap rumahnya yang hancur segera dibangun kembali. “Yang paling penting bagi kami sekarang kapan rumah kami yang hancur ini bisa diperbaiki, supaya kami bisa punya tempat tinggal lagi," ucap Didin, Minggu (19/12/2021).
Warga mengaku masih trauma dan waswas setiap langit mulai mendung. Peristiwa 15 hari yang lalu tak mudah dilupakan. Toha, 55, petani salak, warga Dusun Sumbersari menceritakan, saat itu lahar datang tiba-tiba. Ia dan keluarganya nyaris tewas.
Baca juga: Gunung Semeru Siaga, Polisi Antisipasi "Wisatawan Bencana"
Toha bersama istrinya berusaha menyelamatkan diri dan membawa cucu mereka, Rara yang masih berusia 6 bulan. Motor yang ia kendarai terjebak karena jalan keluar satu-satunya sudah terhalang abu vulkanik, material lahar dan pohon. Mereka berhasil selamat setelah ditolong oleh mobil warga setempat.
Toha, Didin bersama sekitar 100 warga lainnya kini mengungsi di SMPN 02 Pronojiwo. Mereka menempati ruang kelas yang dialihfungsikan menjadi bangsal. Kegiatan belajar mengajar yang masih berlangsung di tempat yang sama, dipindahkan ke musala dan masjid. Di posko SMPN 02 ini, terdapat tenda-tenda besar yang difungsikan sebagai dapur umum dan tempat penyimpanan barang bantuan.
Perbaikan jembatan ini rencananya dimulai awal tahun depan dan diperkirakan membutuhkan waktu hingga 9 bulan. Solusi sementara yang ditempuh adalah membangun jembatan gantung di lokasi yang sama.