Share

Skandal Pesta Lockdown, PM Inggris Boris Johnson Terancam Dilengserkan

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 19 Januari 2022 16:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 19 18 2534649 skandal-pesta-lockdown-pm-inggris-boris-johnson-terancam-dilengserkan-JuFUVJTEeH.jpg Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. (Foto: Reuters)

LONDON - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berjuang untuk mempertahankannya jabatannya di tengah ‘pemberontakan’ oleh anggota parlemennya yang marah atas serangkaian pesta di Downing Street, rumah dan kantor Perdana Menteri Inggris, yang digelar selama penguncian (lockdown) Covid-19.

BACA JUGA: Berpesta di Tengah Lockdown, PM Inggris Dituding Langgar Pembatasan Covid-19

Menjadi perdana menteri Inggris pada 2019, Johnson memenangi mayoritas terbesar partainya, Partai Konservatif, dalam lebih dari 30 tahun. Namun, sekarang Johnson telah didesak untuk mengundurkan diri setelah terungkap serangkaian pesta telah digelar di Downing Street selama lockdown Covid-19.

Johnson telah berulang kali meminta maaf atas pihak-pihak tersebut dan mengatakan bahwa dia tidak mengetahui sebagian besar dari pesta-pesta tersebut. Namun, dia diketahui menghadiri apa yang dia pikir sebagai acara kerja pada 20 Mei 2020, di mana orang-orang yang datang dan bersuka ria diminta “membawa minuman keras mereka sendiri".

Untuk mengajukan pergantian kepemimpinan, 54 dari 360 anggota parlemen Partai Konservatif di parlemen harus menulis surat tidak percaya kepada ketua Komite 1922 partai.

BACA JUGA: Dituntut Mundur, PM Inggris Akhirnya Minta Maaf Usai Hadiri Pesta saat Lockdown

Menurut laporan Telegraph, sebanyak 20 anggota parlemen Konservatif yang memenangkan kursi mereka pada pemilihan nasional terakhir pada 2019 berencana untuk mengajukan surat tidak percaya pada Johnson. Beberapa orang lain telah mengatakan bahwa mereka telah menulis surat semacam itu.

"Kelompok anggota parlemen 2019 mengajukan surat untuk mencoba mencapai ambang 54 untuk memicu kontes (terhadap kepemimpinan Johnson)," kata Editor Politik BBC Laura Kuenssberg di Twitter.

"Mereka mungkin mencapai 54."

Sebuah analisis oleh surat kabar The Times menunjukkan bahwa 58 anggota parlemen Konservatif telah secara terbuka mengkritik perdana menteri.

Menggulingkan Johnson akan meninggalkan Inggris dalam ketidakpastian selama berbulan-bulan di saat Barat berurusan dengan krisis Ukraina dan Inggris bergulat menghadapi gelombang inflasi yang dipicu pandemi Covid-19.

Saingan utama Johnson untuk kepemimpinan Partai Konservatif termasuk Menteri Keuangan Rishi Sunak, (41 tahun), dan Menteri Luar Negeri Liz Truss, (46 tahun).

Diwartakan Reuters, pihak oposisi telah meminta Johnson untuk mengundurkan diri, menudingnya sebagai penipu yang menuntut warga Inggris mengikuti beberapa aturan yang paling berat dalam sejarah masa damai sementara stafnya berpesta.

Rencana penggulingan Johnson yang terbaru disebut sebagai "pork pie plot" atau “rencana pie daging babi” karena salah satu anggota parlemen yang diduga memberontak berasal dari Melton, yang terkenal dengan pie daging babinya.

“Pork Pie” juga merupakan bahasa gaul London untuk sebuah kebohongan.

Johnson sendiri pada Selasa (18/1/2022) membantah tuduhan oleh mantan penasihatnya bahwa dia telah berbohong kepada parlemen tentang pesta selama lockdown tersebut. Johnson mengatakan bahwa tidak ada yang memperingatkannya bahwa pertemuan tersebut mungkin bertentangan dengan aturan Covid-19.

Namun, sejauh ini Johnson menghindari pertanyaan tentang apakan dia akan mengundurkan diri jika terbukti bersalah telah berbohong kepada parlemen. Dia mengatakan bahwa dia ingin menunggu hasil penyelidikan internal.

Johnson akan berpidato di parlemen pada Rabu (19/1/2022) setelah Kabinetnya diperkirakan akan menyetujui rencana untuk mengakhiri pembatasan baru-baru ini yang diberlakukan untuk mengatasi penyebaran Covid-19 di Inggris.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini