Share

Diakui Rusia Merdeka dari Ukraina, Ini Sejarah Republik Donbass

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 22 Februari 2022 08:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 22 18 2550978 diakui-rusia-merdeka-dari-ukraina-ini-sejarah-republik-donbass-6hA7X4hfJb.JPG Milisi Republik Rakyat Donetsk (DPR), yang memproklamirkan diri, memegang senjata di posisi pertempuran di garis pemisah antara Ukraina dengan Kota Donetsk yang dikuasai separatis, 2 April 2021. (Foto: Reuters)

MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (21/2/2022) menyatakan mengakui wilayah separatis Ukraina, Rakyat Donestsk dan Luhansk (DPR dan LPR), sebagai wilayah merdeka. Pengakuan Moskow itu dilakukan di saat konflik antara milisi Donetsk dan Luhansk dengan pemerintah Ukraina kembali memanas, memaksa evakuasi ribuan orang dari wilayah yang secara kolektif dikenal dengan nama Donbass itu.

Konflik di Donbass berawal dari kudeta Maidan di Kiev pada Februari 2014, di mana pemerintah Ukraina yang tidak populer tetapi terpilih secara demokratis digulingkan oleh kekuatan politik yang mendukung integrasi Ukraina dengan Uni Eropa dan NATO dengan mengorbankan hubungan dengan Rusia.

Pada musim semi 2014, para demonstran di Ukraina timur dan selatan menentang orientasi pro-Barat pemerintah baru dan upaya yang dirasakan untuk menekan wilayah berbahasa Rusia mulai mengorganisir protes dan gerakan kemerdekaan. Yang dari gerakan separatis ini terkonsentrasi di wilayah perbatasan Rusia di Donbass.

Kiev menanggapi gerakan separatis ini dengan mencoba membasminya menggunakan kekuatan militer, yang mengarah pada pembentukan milisi lokal oleh penduduk lokal yang berusaha mempertahankan wilayah dan rumah mereka. Pada Mei 2014 milisi di Donbass memproklamirkan Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk.

Sementara itu di tempat lain, di wilayah-wilayah besar di Ukraina timur, termasuk di Kharkov, Nikolayev dan Odessa, pengunjuk rasa anti-Kiev dan pro-kemerdekaan secara sistematis dipenjara, dibunuh, dan dihilangkan.

Perang saudara skala penuh berkecamuk di seluruh Donbass antara Mei 2014 dan Februari 2015, menewaskan setidaknya 13.000 orang, melukai ribuan lainnya dan mendorong lebih dari 2,5 juta penduduk kawasan itu meninggalkan rumah mereka, dengan lebih dari satu juta mencari perlindungan di Rusia.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Pada Februari 2015, para pemimpin dari Ukraina dan tiga negara penjamin Rusia, Prancis dan Jerman bertemu di Ibu Kota Belarusia, Minsk, untuk menyepakati Perjanjian Minsk, kesepakatan gencatan senjata dan perdamaian komprehensif yang bertujuan untuk mengakhiri konflik di Donbass dan mengintegrasikan kembali Donetsk dan Lugansk kembali ke Ukraina dengan imbalan otonomi luas yang diamanatkan secara konstitusional.

Namun, selama bertahun-tahun Pemerintah Ukraina berturut-turut gagal membuat kemajuan dalam mengimplementasikan bagian politik kesepakatan itu, demikian dilansir dari Sputnik.

Pada 2019, upaya untuk mengimplemetasi Perjanjian Minsk oleh Presiden Volodymyr Zelensky yang baru terpilih dibatalkan setelah puluhan ribu pengunjuk rasa, termasuk veteran perang Donbass dan milisi ultra-nasionalis, berkumpul di Kiev dan mengancam akan menggulingkan pemerintahannya.

Gencatan senjata yang rapuh antara Ukraina dengan milisi Donbass dilanggar akhir pekan lalu setelah serangan mortir, penembak jitu, pengeboman, dan tindakan kekerasan lainnya terjadi di Donbass. Pengamat dari Organisasi untuk Kerjasama Keamanan di Eropa (OSCE) mencatat ratusan pelanggaran gencatan senjata oleh kedua belah pihak.

Untuk menanggapi eskalasi konflik yang terjadi, pada Jumat (18/2/2022) pimpinan DPR dan LPR mengumumkan mobilisasi umum dan mulai mengevakuasi penduduk sipil mereka ke Rusia. Pada Senin (21/2/2022), ketua DPR dan LPR Denis Pushilin dan Leonid Pasechnik secara resmi meminta Putin untuk mengakui status mereka sebagai negara merdeka, permintaan yang disetujui oleh Kremlin.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini