Share

Berasal dari Satu Rumpun, Pakar Unpad: Perang Rusia-Ukraina Seperti Konflik Saudara Kandung

Tim Okezone, Okezone · Minggu 27 Februari 2022 12:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 27 18 2553792 berasal-dari-satu-rumpun-pakar-unpad-perang-rusia-ukraina-seperti-konflik-saudara-kandung-c4sZ5y0EN4.jpg Foto: Reuters.

JAKARTA – Konflik antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung saat ini adalah sebuah konflik antar saudara kandung, demikian disampaikan Dosen Program Studi Sastra Rusia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Supian, M.A., PhD. Pasalnya, Rusia dan Ukraina adalah dua negara yang berasal satu rumpun budaya yang sama, yaitu Slavia Timur.

“Ini sangat disayangkan terjadi konflik kakak-adik. Hal ini bisa diredamkan dengan budayanya sendiri,” ungkap Supian sebagaimana dilansir dari Kanal Media Unpad, Minggu (27/2/2022).

BACA JUGA: 12.000 Pasukan Elite Chechnya Dikirim ke Ukraina untuk Bantu Rusia

Dosen yang pernah 7 tahun tinggal di Moskow, Rusia danVoronezh, perbatasan Rusia-Ukraina itu menilai Rusia dan Ukraina layaknya Indonesia dan Malaysia, yang merupakan saudara serumpun. Hal inilah yang membuat karakter masyarakat dan bahasa, Rusia-Ukraina tidak jauh berbeda.

Supian mengatakan bahwa dari pengalamannya ia menemukan banyak warga negara Ukraina yang sehari-hari sekolah ataupun bekerja di Rusia. Dua di antaranya berasal dari Provinsi Donestk dan Luhansk, wilayah di Ukraina yang akhirnya diakui kedaulatannya oleh Rusia. Setiap akhir pekan, mereka mudik ke Ukraina.

“Secara kekerabatan masyarakat, sebenarnya tidak ada masalah. Sampai sekarang pun masyarakat Rusia dan Ukraina biasa saja,” ujarnya. .

Namun, budaya jugalah yang ternyata menjadi asal mula konflik antara kedua saudara ini. Menurut Supian larangan penggunaan bahasa Rusia di sekolah Donestk dan Luhansk menjadi pemicu lahirnya konflik. Padahal, bahasa Rusia menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan di dua provinsi tersebut.

BACA JUGA: Penyebab Perang Rusia-Ukraina, Ini Latar Belakang Konflik Kedua Negara

Masalah ini kemudian diperburuk oleh faktor ekonomi, karena sebagai negara bekas pecahan Uni Soviet, tingkat ekonomi Ukraina ternyata tidak semaju Rusia yang notabene memegang saham terbesar dari aset Uni Soviet.

Karena itu, Ukraina membuka peluang investasi yang besar dari luar agar bisa mengatasi ketertinggalan di bidang ekonomi.

“Sedikit demi sedikit kemudian semua ingin seperti Amerika, kemudian masuk juga invasi Eropa Barat ke Ukraina,” kata Supian.

Alumnus Pushkin State RL Institute Rusia ini mengatakan, secara budaya, rumpun Slavia Timur sulit berbaur dengan rumpun Indo-Jerman Barat. Ada banyak perbedaan yang tampak dari budaya Slavia dengan budaya negara-negara Barat. Hal ini kemudian menuai kritik keras dari Rusia.

“Jadi konflik ini murni lebih ke politik. Akar masyarakat Rusia dan Ukraina itu sangat kuat, dan mereka sama-sama menganut Ortodoks,” tambahnya.

Dia menilai bahwa ada kemungkinan konflik ini akan akan berakhir di meja perundingan. Faktanya Uni Soviet, negara yang kemudian membentuk Rusia dan Ukraina, berhasil menghindari pecahnya perang nuklir pada 1962 dengan melakukan perundingan.

“Ada satu moto yang dipegang teguh para diplomat Rusia-Ukraina hingga saat ini, yaitu ‘lebih baik 10 tahun berunding daripada 1 hari berperang’. Slogan ini jadi kurikulum wajib calon diplomat,” kata Supian.

Moto tersebut lahir dari Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Gromyko. Ia berhasil menjadi “pahlawan” yang mampu menghindarkan konflik perang nuklir di Kuba melalui meja perundingan. Uniknya Andrei Gromyko, ternyata merupakan diplomat berdarah Ukraina.

Dari sejarah ini Supian menemukan bahwa Rusia dan Ukraina selayaknya saudara kandung yang tidak bisa dipisahkan. Konflik terjadi akibat soal politik. “Saya yakin konflik ini akan berakhir di meja perundingan,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini