Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan wilayah Cianjur termasuk daerah jalur gempa yang cukup aktif. Begitu pula dengan wilayah Sukabumi, Lembang, Purwakarta dan Bandung.
Terdapat sejumlah sesar di wilayah itu yakni sesar Cimandiri, Padalarang, Lembang, Cirata, serta banyak sesar minor lainnya.
Karakter gempa yang mengancam wilayah ini pun tergolong dangkal, sehingga menurut Daryono, "tidak butuh kekuatan besar".
"Kekuatan 4, 5, 6 pun bisa memicu kerusakan," ujar Daryono.
Gempa pertama yang tercatat oleh BMKG di wilayah ini terjadi pada 1844.
Sebelum itu, gempa di wilayah Cianjur kemungkinan juga sering terjadi, namun belum tercatat.
Gempa yang merusak kembali terjadi di wilayah Cianjur dan sekitarnya pada 1910.
"Kemudian pada 21 Januari 1912 juga banyak terjadi kerusakan rumah di perbatasan Cianjur dan Sukabumi," lanjutnya.
Gempa selanjutnya yang tercatat yakni pada 2 November 1968, di mana gempa berkekuatan 5,4 menyebabkan "banyak sekali rumah roboh".
Lalu pada 10 Februari 1982, gempa berkekuatan 5,5 menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.
Gempa merusak terakhir yang tercatat sebelum gempa terbaru ini, yakni pada 12 Juli 2000 yang menyebabkan lebih dari 1.900 rumah rusak berat.
Sebelum gempa berkekuatan 5,6 pada Senin (21/11), BMKG pun mencatat terjadi tiga gempa berkekuatan 2,6 hingga 4,1 di Danau Cirata.
"Waktu itu masyarakat merasakan karena (gempa) terjadi pada dini hari, 4,1 itu cukup kuat," ujarnya.
Dengan riwayat panjang gempa ini, Daryono mengatakan "penting untuk terus mengidentifikasi sumber gempa dan jalur sesar aktif".