Menurut Irwan, salah satu poin krusial yang harus dilakukan pasca-gempa ini adalah membangun kembali hunian masyarakat yang tahan gempa atau di kawasan yang lebih minim dampak guncangan.
Untuk melaksanakan itu, perlu dilakukan kajian yang mendalam.
“Penting untuk memastikan dimana lokasi bangunan tersebut? Apakah termasuk dalam zona sesar, atau bisa jadi (bangunan) yang rusak jauh dari sesar, tapi dibangun dengan kaidah tidak baik,” tuturnya.
“Kalau dibangun di tempat yang sama, pastikan tempat yang sama itu tidak di wilayah di mana sesar itu mungkin jadi sumber gempa lagi, jangan sampai baru dibangun, lalu beberapa puluh tahun kemudian rusak lagi dengan gempa berkekuatan sama,” lanjut dia.
Untuk bangunan yang berada di jalur sesar gempa, Irwan mengatakan penting merelokasi pembangunannya. Sebab pada area ini, struktur bangunan yang baik pun tidak cukup untuk menahan guncangan gempa.
Sistem zonasi seperti itu pascabencana, kata dia, telah dilakukan dengan cukup baik setelah gempa di Palu pada 2018.
Namun, Irwan mengatakan masih banyak masyarakat yang hidup di zona sesar aktif dan tidak menyadarinya.
Padahal zona sesar aktif sangat perlu dipertimbangkan dalam pembangunan.
“Perlu diterapkan area yang tidak boleh dibangun, suatu zona yang tidak terlalu luas koridornya, misalnya dijadikan sebagai kawasan hijau. Ini sangat mungkin dilakukan di kawasan sesar Cimandiri karena memang relatif banyak daerah belum dibangun di dekat sesar,” jelasnya.
Namun dalam konteks lebih luas, penerapan sistem zonasi rawan bencana ini tidak mudah dilakukan karena berbenturan dengan kepentingan lain.
Pada banyak kasus bencana di Indonesia, penetapannya baru dilakukan setelah bencana terjadi.
“Itu perlu komitmen, tidak mudah mendifinisikan, oke ini enggak boleh dibangun. Karena sering kali kepentingannya lebih kompleks dari sekedar kepentingan untuk pengurangan risiko bencana,” ungkapnya.
Terkait situs gempa di Cianjur yang berulang, Irwan mengatakan telah ada pemetaan soal kawasan rawan bencana yang menjadi acuan untuk memitigasi risiko gempa bumi berdasarkan konteks sumber gempa dan guncangannya.
“Tapi upaya yang lebih menyentuh pada aspek masyarakat, kita tidak melihat ada upaya sistematis ke arah sana. Menurut saya, kita harus lebih serius mengarusutamakan pengurangan risiko gempa bumi sebagai bagian dari perencanaan pembangunan,” tambahnya.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.