“Jawa ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, (kemudian) Kalimantan di Kalimantan Selatan dan Sulawesi itu Sulawesi Selatan,” tambah Aam.
Pada kesempatan itu, Aam pun mengatakan bahwa faktor campur tangan manusia atau human made menyebabkan tingginya frekuensi kejadian bencana. Seperti kejadian bencana hidrometeorologi basah yakni banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, juga tanah longsor.
“Ini yang berkali-kali kita ingin sampaikan kepada pemerintah daerah, sebenarnya karena penyumbang kejadian bencana ini adalah saat ini, sampai saat ini masih hidrometeorologi basah banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem tanah longsor, yang sebenarnya ini adalah human made,” kata Aam.
Bahkan, kata Aam, dalam salah satu pertemuan dengan United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa faktor campur tangan manusia lah yang menjadi penyebab tingginya kejadian bencana.
“Jadi sekarang itu kalau di bahasa Inggrisnya itu bukan lagi man made lagi, karena diskusinya waktu itu sempat di salah satu meeting UN di PBB, kalau kita bilang man made itu masih ada gendernya di situ, human made, campur tangan manusia, human made disaster. Jadi gambaran kejadian bencana kita, semester pertama (tahun ini) di 1.862 kali kejadian bencana,” tandasnya.
(Rahman Asmardika)