Menurut Andreas, pendampingan psikologi bagi atlet sangat diperlukan terutama di ajang-ajang kompetisi yang tingkat persaingannya sangat tinggi seperti Olimpiade. Maka aspek pembinaan psikologi sangat diperlukan.
“Atlet pasti merasa under pressure karena mereka dituntut meraih medali atau prestasi. Mereka harus membawa nama baik bangsa, lalu bersaing dengan atlet-atlet besar. Jadi aspek pembinaan psikologi ikut menentukan prestasi atlet ,” papar Andreas.
Memang kondisi psikis setiap orang berbeda. Misalnya seperti Gregoria (Jorji) Mariska Tunjung yang dinilai Andreas mampu lebih kuat secara mental saat Olimpiade Paris lalu.
“Saya melihat Jorji agak berbeda ya dengan atlet-atlet lainnya saat pertandingan kemarin. Jorji terlihat jauh lebih tenang, walaupun berat juga perjuangannya. Tapi mentalnya tampak lebih kuat, terlihat daya juangnya tinggi sekali,” katanya.
Terlepas dari hal itu, Andreas menyebut aspek psikologi dan aspek-aspek lainnya tetap harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas atlet. Karena hal ini-lah maka diperlukan aturan-aturan teknis turunan dari DBON sehingga pembinaan atlet dapat semakin lebih optimal, di antaranya adalah penyediaan infrastruktur kebutuhan Sport Science.
“Bagian ini lah yang harus jadi perhatian juga ke depannya,” tutup Andreas.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.