JAKARTA – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Irwasum Polri Komjen Wahyu Widada, dan Dankor Brimob Polri Komjen Ramdani Hidayat mengikuti langsung renungan nilai-nilai Ksatria Bhayangkara. Kegiatan itu merupakan prosesi sakral yang menjadi rangkaian utama dalam Apel Kasatwil 2025.
Sigit memimpin pembacaan Ikrar Ksatria Bhayangkara, sebuah komitmen moral untuk memperkuat arah transformasi Polri. “Dengan memohon ridha Tuhan Yang Maha Esa, di bawah panji Merah Putih, di hadapan api perjuangan rakyat Indonesia, kami, Ksatria Bhayangkara, berikrar... membangun Polri yang melindungi, Polri yang melayani, Polri yang mengayomi, Polri yang dicintai dan dipercaya masyarakat," kata Sigit, Rabu (26/11/2025).
Ikrar tersebut diikuti serempak oleh seluruh Kapolda, Karo Ops, dan Kapolres, menciptakan gema komitmen bersama yang memenuhi area renungan. Kapolri menegaskan ikrar ini merupakan kompas moral Polri untuk memperkuat integritas dan pelayanan publik.
Dalam penutup ikrarnya, Sigit kembali menekankan tekad kolektif Polri:
"Demi seluruh rakyat Indonesia, demi kehormatan Kepolisian Negara Republik Indonesia… kami berjanji untuk setia pada ikrar kami. Kami tegak, kami siap, kami setia.”
Renungan Nilai-Nilai Ksatria Bhayangkara ini dirancang sebagai momen refleksi mendalam, diiringi visual sejarah perjuangan Komjen Pol (P) M. Jasin yang ditampilkan pada layar LED sebagai simbol keberanian moral dan keteguhan prinsip.
Seluruh rangkaian menegaskan bahwa Polri memasuki babak baru perubahan yang menempatkan integritas, keberanian moral, dan pelayanan masyarakat sebagai fondasi utama.
Sementara Irwasum Wahyu Widada membacakan naskah renungan Ksatria Bhayangkara, yakni:
Jika Komjen Pol (P) Moeh. Jasin hidup hari ini... jika ia melihat kita malam ini... apa ia akan tersenyum? Atau ia akan mengingatkan kita bahwa kehormatan Polri bukan diukur dari pangkat, tapi dari ketulusan dalam melayani rakyat?
Saudaraku...
Malam ini, kita dipanggil oleh sejarah. Dipanggil oleh nurani. Dipanggil oleh api kecil yang dulu dijaga Komjen Pol (P) Moeh. Jasin, dan kini kita warisi.
Mari kita bertanya jujur pada diri masing-masing:
Apakah tindakan kita sudah bersih?
Apakah keputusan kita berani?
Apakah rakyat merasakan kita melayani?
Apakah masyarakat mencintai dan mempercayai kita?
Ataukah api itu mulai redup dalam diri kita?
Tidak ada yang sempurna di dunia ini — tapi ada satu hal yang tidak boleh padam: keinginan untuk memperbaiki diri.
Sementara itu, Dankor Brimob Polri juga membacakan naskah renungan Ksatria Bhayangkara, yaitu:
Saudara-saudaraku… para penjaga negeri…
Dalam hening malam ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: apa yang membuat kita berdiri di sini? Apa yang membuat kita tetap mengenakan seragam ini, meski tekanan datang, kritik menghantam, dan tugas semakin berat?
Jawabannya bukan pangkat. Bukan fasilitas. Bukan penghargaan.
Jawabannya adalah kepercayaan. Kepercayaan rakyat. Kepercayaan bangsa. Kepercayaan sejarah.
Malam ini, mari kita ingat kembali seorang polisi yang memilih jalan terberat... polisi yang tidak mencari aman... tidak mencari selamat... tapi mencari kebenaran.
Komjen Pol (P) Moeh. Jasin. Ketika Jepang menawarkan kekuasaan, ia berkata, “Polisi bukan alat penjajah.” Kalimat itu sederhana... tapi di baliknya ada keberanian yang hanya dimiliki seorang ksatria.
(Arief Setyadi )