Meski kini mendukung penuh karier militer anaknya, Luhut mengakui bahwa pada awalnya ia tidak menyukai pilihan Paulus untuk menjadi tentara. “Saya sudah bilang Paulus, sebenarnya saya tidak suka Paulus dulu jadi tentara. Tapi itulah perjalanan hidup,” kata Luhut.
Namun karena kegigihan Paulus, Luhut akhirnya mengalah dengan satu syarat khusus. “Dia tetap ngotot untuk jadi tentara, ya sudah. Tapi kita deal, asal kamu masuk Kopassus, gitu. Jadi dia masuk Kopassus,” tuturnya.
Luhut pun menyampaikan, bahwa ada proses yang harus dilalui psychology test dan ternyata hasilnya bagus. Ia pun kembali mengingatkan jika menjadi tentara harus siap menderita dan jangan berpikir senangnya saja.
Ketertarikan Paulus pada dunia militer, menurut Luhut, sudah terlihat sejak kecil saat sering diajak melihat latihan militer. “Iya itu memang lucu, karena saya Dan Sat-81, waktu itu Paulus masih kecil kan. Jadi setiap ada nembak setiap latihan saya ajak dia untuk lihat-lihat di Bugis, Markas Sat-81,” ujar Luhut.
Ia pun menyadari bahwa hal tersebut bisa memengaruhi ketertarikan anak pada profesi orangtuanya. “Itu mungkin yang membuat dia (terobsesi), jadi kita ini bahaya juga kalau anak kita terus melihat pekerjaan kita ini bisa jadi terobsesi untuk menjadi begitu,” katanya.