Lalu Duta Besar RI untuk Republik Austria dan Kantor PBB di Wina periode 2017–2021, Darmansjah Djumala menambahkan, kebijakan luar negeri sepihak Amerika Serikat di era Trump berpotensi melemahkan tatanan global dan mendorong negara-negara lain bertindak serupa di kawasan masing-masing.
“Unilateralisme regional akan melahirkan unilateralisme global. Negara-negara kekuatan regional akan bertindak sepihak, melanggar norma dan pakem politik luar negeri yang selama ini menjaga stabilitas internasional,” kata Djumala.
Mantan Ketua Dewan Gubernur International Atomic Energy Agency (IAEA) periode 2017–2018 itu menambahkan, Indonesia tetap perlu mengedepankan soft diplomacy yang mengutamakan perundingan damai. Namun, Indonesia juga perlu melangkah lebih jauh dengan mengembangkan meta-diplomacy, yakni diplomasi berbasis nilai moral dan etika.
“Modal meta-diplomacy Indonesia sangat kuat, mulai dari semangat Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non-Blok, hingga reputasi Indonesia sebagai bangsa yang moderat dan toleran,” ujarnya.
Lalu, Teguh Santosa menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto mengikuti inisiatif Trump melalui Board of Peace (BoP) dalam isu perdamaian Gaza sebagai langkah yang realistis di tengah situasi global yang keras.
“Inilah bentuk negative peace yang mendesak kita perlukan. Apakah kita mau setiap hari mendengar kabar warga Palestina tewas di Gaza? Setelah kekerasan berhenti, barulah kita berbicara tentang positive peace,” tegas Teguh.