Sementara itu, BMKG juga mendeteksi Bibit Siklon Tropis 95W yang awalnya terbentuk di luar wilayah pemantauan TCWC Jakarta pada 4 Maret. Sistem ini kemudian memasuki area monitoring sejak 6 Maret 2026 pukul 01.00 WIB.
Saat ini posisi bibit siklon berada di Samudra Pasifik utara Papua dan bergerak perlahan ke arah barat laut.
“Bibit Siklon Tropis 95W memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dan bergerak perlahan ke arah barat laut dalam periode 24 jam ke depan,” tulis BMKG.
Dampak tidak langsung dari sistem ini diperkirakan memengaruhi kondisi perairan di wilayah timur Indonesia, di antaranya:
Gelombang tinggi (1,25 – 2,5 meter) berpotensi terjadi di Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua Barat, serta di Laut Maluku.
Gelombang sangat tinggi (2,5 – 4 meter) berpotensi terjadi di Samudra Pasifik utara Papua dan Samudra Pasifik utara Maluku.
BMKG mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi.
Pengguna jasa kelautan diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas pelayaran guna menghindari risiko kecelakaan laut.
“Masyarakat pesisir, nelayan, dan operator pelayaran di wilayah terdampak diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi dan kondisi perairan yang berbahaya,” imbau BMKG.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.