Direktur PoliEco Digital Insights Institute (PEDAS) itu juga menilai gaya komunikasi Teddy yang lebih cair namun tetap berbobot, mencerminkan adaptasi terhadap perubahan perilaku audiens, khususnya generasi milenial dan Gen Z yang mendominasi ruang digital saat ini.
“Audiens digital cenderung menyukai komunikasi yang autentik, tidak kaku, dan langsung ke inti persoalan. Tingkat engagement juga lebih tinggi pada pesan yang terasa natural namun tetap informatif. Dalam hal ini, pendekatan Seskab Teddy sudah selaras dengan karakter komunikasi era digital,” jelasnya.
Anthony, yang juga menjabat sebagai Ketua BPP HIPMI Bidang Sinergitas Danantara, BUMN, dan BUMD, menilai pola komunikasi terbuka ini tidak hanya berdampak pada publik, tetapi juga berimplikasi pada komunikasi internal pemerintahan.
Menurutnya, kejelasan pesan dan keterbukaan dapat memperkuat koordinasi antar kementerian dan lembaga, sekaligus meminimalkan miskomunikasi serta mempercepat pengambilan keputusan.
“Dalam perspektif komunikasi organisasi, transparansi dan kejelasan pesan merupakan fondasi koordinasi yang efektif. Jika pola komunikasi seperti ini konsisten diterapkan, maka akan berdampak positif terhadap kinerja dan sinergi antar lembaga,” pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.