Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

AS Resmi Jalin Kerja Sama Nuklir dengan Arab Saudi di Tengah Konflik Iran

Awaludin , Jurnalis-Kamis, 23 Juli 2026 |10:08 WIB
AS Resmi Jalin Kerja Sama Nuklir dengan Arab Saudi di Tengah Konflik Iran
Presiden AS Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (foto: AP News)
A
A
A

JAKARTA - Amerika Serikat dan Arab Saudi resmi mencapai kesepakatan kerja sama nuklir sipil. Pengumuman tersebut disampaikan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan strategis antara Washington dan Riyadh.

Departemen Energi AS menyebut perjanjian itu sebagai kesepakatan "bersejarah". Melalui kerja sama tersebut, perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat akan memasok teknologi nuklir kepada Arab Saudi.

Kesepakatan ini mencakup perjanjian berdasarkan Pasal 123 Undang-Undang Energi Atom AS Tahun 1954, atau yang dikenal sebagai 123 Agreement, beserta perjanjian pengamanan bilateral yang menyertainya.

Menteri Energi AS, Chris Wright mengatakan, perjanjian tersebut mencerminkan komitmen kedua negara dalam memperkuat hubungan perdagangan sekaligus meningkatkan kemakmuran dan keamanan bersama.

"Perjanjian-perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara kita untuk memperkuat hubungan perdagangan AS-Arab Saudi, mewujudkan kemakmuran di dalam negeri dan keamanan bagi sekutu kita di luar negeri," ujar Wright dilansir dari Aljazeera, Kamis (23/7/2026).

Ia juga menegaskan, bahwa kerja sama tersebut tetap mengedepankan standar keselamatan nuklir dan prinsip nonproliferasi yang tinggi, dengan memanfaatkan teknologi serta ilmuwan nuklir terbaik yang dikembangkan di Amerika Serikat.

 

Sejumlah media di AS melaporkan, kesepakatan itu berpotensi memberi izin kepada Arab Saudi untuk memperkaya uranium di dalam negeri, alih-alih mengimpor bahan bakar nuklir dari Amerika Serikat.

Namun, Departemen Energi AS belum memberikan penjelasan rinci mengenai isu pengayaan uranium tersebut. Jika informasi itu terbukti benar, kesepakatan diperkirakan akan memicu penolakan dari sejumlah pihak di Kongres AS.

Pemerintahan Trump menyebut kerja sama ini sebagai kemitraan bernilai miliaran dolar yang akan berlangsung selama beberapa dekade. Dokumen perjanjian selanjutnya akan diserahkan kepada Kongres untuk ditinjau.

Pengumuman tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden Donald Trump bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari dengan alasan mencegah Teheran memperkaya uranium dan mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan tersebut dibantah oleh Iran.

AS dan Israel juga diketahui pernah membombardir sejumlah fasilitas nuklir Iran pada tahun lalu.

 

Berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), pengayaan uranium tidak dilarang. Namun, uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dapat digunakan sebagai bahan pembuatan senjata nuklir.

Di kawasan Timur Tengah, Israel hingga kini diyakini menjadi satu-satunya negara yang memiliki persenjataan nuklir.

Pemerintahan Trump menilai kerja sama nuklir dengan Arab Saudi akan membuka lapangan kerja di Amerika Serikat, memperkuat standar nonproliferasi global, sekaligus mempererat kemitraan strategis dengan Riyadh.

Kesepakatan tersebut diumumkan saat konflik antara AS, Israel, dan Iran masih berlangsung. Selama ketegangan itu, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan yang menampung pasukan AS di kawasan, serta menargetkan beberapa fasilitas energi di wilayah Teluk.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement