Berdasarkan pengamatan selama 9-10 September 2026, Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut. Pengamatan visual juga memperlihatkan terjadinya erupsi, meski tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Secara instrumental, tercatat satu kali gempa erupsi, enam kali gempa hembusan, tiga kali gempa low frequency, lima kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa vulkanik dalam, serta tiga kali gempa tektonik jauh.
Energi aktivitas vulkanik yang tercermin dari nilai perataan amplitudo Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) berfluktuasi dengan energi rendah. Sementara itu, data tiltmeter Stasiun Tanjung dan Lava93 menunjukkan kecenderungan mendatar sebagai indikasi kondisi konstan, tanpa adanya peningkatan maupun penurunan.
Meski aktivitas menunjukkan kecenderungan menurun, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
"Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi," ujar Lana.
Badan Geologi mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Masyarakat yang terdampak abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas untuk menghindari gangguan pernapasan," imbaunya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.