Ia mengatakan bonus demografi menjadi peluang strategis karena Indonesia akan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Momentum tersebut harus dimanfaatkan dengan mempersiapkan SDM yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing.
“Kesempatan ada di depan kita. Bagaimana kemudian kita bisa memanfaatkan semua, dan itu tentunya butuh kolaborasi,” ucap Sigit.
Menurut Sigit, bonus demografi tidak otomatis membawa Indonesia menjadi negara maju. Peluang tersebut harus diikuti peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kesehatan dan gizi masyarakat.
Sigit mencontohkan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan sebagai negara yang berhasil memanfaatkan momentum bonus demografi dengan memperkuat pendidikan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, serta menjaga kualitas kesehatan masyarakat.
Sebaliknya, Brasil dan Thailand menjadi contoh negara yang belum berhasil mengoptimalkan momentum bonus demografi.
Hal tersebut antara lain dikaitkan dengan belum optimalnya kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja, terbatasnya lapangan kerja berkualitas, serta perkembangan teknologi dan industri yang belum mampu meningkatkan produktivitas secara maksimal.