Bermimpi sejak SD, Siswa Yatim Piatu Asal Papua Pegunungan Jadi Paskibraka Nasional

Tim Okezone, Jurnalis
Sabtu 15 Agustus 2026 15:13 WIB
Julia Maharani Dabi, Paskibraka Nasional (Foto: Ist/Okezone)
Share :

JAKARTA - Sejak kecil, Julia Maharani Dabi selalu antusias menyaksikan upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia melalui layar kaca. Siswa SMAN 1 Wamena, Papua Pegunungan, ini mengaku selalu terkesima melihat jajaran Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) berbaris dan mengibarkan Sang Merah Putih di Kompleks Istana Kepresidenan.

Hingga suatu hari, ia pun berharap dapat menjadi bagian dari pasukan tersebut. “Saya kalau 17-an, setiap hari saya nonton. Mereka langkahnya tegap, saya berpikir pasti saya bisa. Saya percaya diri kalau saya akan mengibarkan bendera,” ujar Julia dikutip Sabtu (15/8/2026).

Impian tersebut perlahan mulai mendekati kenyataan ketika Julia menjadi siswa baru di SMAN 1 Wamena. Saat proses penerimaan siswa baru, kakak kelas Julia terkesan dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Tak hanya itu, mereka juga menyukai cara Julia melangkahkan kaki.

Tak butuh waktu lama, sang kakak kelas pun menanyakan kesediaan Julia untuk bergabung dalam pelatihan pasukan pengibar bendera. Pertanyaan tersebut langsung disambut baik olehnya.

"Setelah itu, jadi kami selalu latihan setiap sore sepulang sekolah. Latihan dan terus latihan," tuturnya.

Namun, bagi Julia, proses latihan tersebut juga memiliki banyak tantangan. Jarak rumahnya ke sekolah cukup jauh dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit jika ditempuh menggunakan sepeda motor.

Bahkan, ketika tidak memiliki uang untuk membeli bensin, ia terpaksa berjalan kaki ke sekolah demi mengikuti latihan baris-berbaris yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00.

Kendati demikian, tantangan tersebut tak lantas membuat Julia menyerah. Ia tetap rajin mengikuti pelatihan karena yakin suatu saat dapat terpilih menjadi anggota Paskibraka Nasional.

"Saya sangat semangat karena menurut saya, saya percaya diri. Pasti saya akan bisa jadi Paskibraka nasional. Jadi, bagaimanapun tantangannya, cobaan, godaan, saya lewati," imbuh dia.

Kerja keras Julia mulai membuahkan hasil ketika perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mencari bibit-bibit Paskibraka Nasional di sekolahnya. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Julia bersama empat siswa lain dari sekolahnya lolos ke tahap seleksi provinsi.

Selepas itu, Julia mendapatkan pelatihan yang lebih intensif dan kemudian berkesempatan mengikuti proses verifikasi di Jakarta. Untungnya, Julia dan satu teman sekolahnya berhasil lolos, sementara tiga lainnya kembali ke Provinsi Papua Pegunungan.

Namun, proses pelatihan di Jakarta kembali menghadirkan tantangan. Julia mengatakan salah satu tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru, terutama ketika harus berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan daerah di Indonesia.

Selain itu, keterbatasan dana juga sempat mengganjal langkah Julia menuju Jakarta. Ia berkisah bahwa dirinya sempat tidak memiliki sepatu pantofel ketika hendak berangkat ke Jakarta. Karena keterbatasan ekonomi, ia pun meminjam sepasang sepatu dari tetangganya.

Namun, ukuran sepatu tersebut rupanya tidak pas dengan kaki Julia. Ia pun merasakan pegal yang luar biasa ketika berlatih menggunakan sepatu tersebut. Kendati demikian, Julia tetap tak mau menyerah pada keadaan.

"Tapi saya tetap semangat. Bagaimanapun caranya, ada tantangan walaupun sakit, saya tetap latihan. Karena saya yakin saya bisa. Saya bukan perempuan lemah, saya itu kuat. Saya akan latihan dengan sungguh-sungguh supaya bisa mengibarkan bendera," jelas dia.

Kini, Julia tetap antusias berlatih menjelang upacara HUT ke-81 RI di Kompleks Istana Negara yang tinggal menghitung hari meski kedua orangtua yang dulu menjadi pendorong utama motivasinya sudah tak bisa lagi menyaksikan antusiasme tersebut.

Ia berkisah bahwa kedua orangtuanya telah berpulang. Sang ibu meninggal dunia pada 2022, sementara sang ayah wafat dua tahun kemudian. Kendati demikian, Julia tetap bertekad membuktikan kepada kedua orangtuanya bahwa ia mampu menggapai apa yang telah diimpikannya sejak dulu.

"Saya akan menunjukkan kepada seluruh masyarakat di Papua, bahwa saya dari Papua Pegunungan bisa mengibarkan bendera pusaka di istana dengan baik dan tidak ada kesalahan satu pun," ujarnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya