Setahun Gencatan Senjata, Tak Ada Rumah Sakit di Gaza yang Beroperasi Penuh

Awaludin, Jurnalis
Jum'at 09 Oktober 2026 08:36 WIB
Rumah Sakit al-Aqsa di Deir al-Balah di Gaza tengah (foto: AP)
Share :

JAKARTA - Jalur Gaza masih belum memiliki rumah sakit yang beroperasi dengan kapasitas penuh hampir setahun setelah gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. Sistem kesehatan di wilayah Palestina tersebut belum menunjukkan pemulihan berarti, sementara ribuan pasien membutuhkan perawatan medis yang tidak tersedia di Gaza.

Organisasi Dokter untuk Hak Asasi Manusia-Israel menyampaikan, kondisi tersebut dalam laporan yang dirilis pada Kamis. Laporan itu menilai situasi sistem kesehatan Gaza hampir setahun setelah gencatan senjata dimulai.

Organisasi tersebut menyatakan, meskipun jumlah rumah sakit yang kembali beroperasi secara terbatas meningkat, kondisi itu belum menghasilkan pemulihan nyata bagi sistem kesehatan Gaza.

“Jumlah tempat tidur perawatan intensif praktis tidak berubah, kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis penting semakin memburuk, sementara ribuan pasien tetap tidak mendapatkan perawatan penyelamat jiwa yang tidak tersedia di Jalur Gaza,” kata organisasi tersebut, dilansir dari trtworld, Jumat (9/10/2026).

Jumlah tempat tidur perawatan intensif juga nyaris tidak bertambah. Gaza memiliki 103 tempat tidur pada Oktober 2025, sedangkan pada Juli 2026 jumlahnya hanya meningkat menjadi 104. Layanan dialisis ginjal bahkan belum menunjukkan pemulihan.

“Layanan dialisis tersedia di 17 persen fasilitas kesehatan pada Oktober 2025, turun menjadi 12 persen pada Juli 2026, sementara layanan MRI tetap tidak tersedia di wilayah tersebut,” demikian pernyataan organisasi itu.

 

Organisasi tersebut juga menyebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendokumentasikan sedikitnya 143 serangan tambahan terhadap layanan kesehatan selama tujuh bulan pertama gencatan senjata.

Kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis terus berlanjut. Berdasarkan data Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah Pendudukan (COGAT), sebanyak 69 persen perlengkapan medis yang disetujui untuk masuk ke Gaza pada Januari hingga Mei 2026 tidak sampai ke wilayah tersebut.

Ribuan pasien menunggu evakuasi medis

Laporan tersebut turut menyoroti dampak penutupan perbatasan dan pembatasan yang menghalangi warga Palestina meninggalkan Gaza untuk memperoleh perawatan medis. Kondisi itu menyebabkan sejumlah pasien meninggal dunia ketika menunggu evakuasi.

“Meskipun kebutuhan akan perawatan meningkat, jumlah orang yang pergi untuk mendapatkan perawatan medis jauh di bawah tingkat sebelum perang,” kata laporan tersebut.

Sebelum Oktober 2023, sekitar 50 hingga 100 pasien meninggalkan Gaza setiap hari untuk memperoleh perawatan medis di luar wilayah tersebut.

Sementara itu, Bursh mengatakan lebih dari 20.000 pasien dan korban luka saat ini sangat membutuhkan evakuasi medis agar dapat menjalani perawatan di luar Gaza.

Menurut dia, pengaturan yang memungkinkan sekitar 300 pasien berangkat setiap hari belum diterapkan oleh Israel. Saat ini, hanya sekitar 25 pasien yang diizinkan meninggalkan Gaza setiap hari.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada April menunjukkan lebih dari 18.500 pasien membutuhkan evakuasi medis, termasuk sekitar 4.000 anak-anak.

Bursh mendesak masyarakat internasional mengambil tindakan segera untuk menekan Israel agar mengizinkan obat-obatan dan peralatan medis masuk ke Gaza, memulihkan rumah sakit, serta memungkinkan tenaga medis kembali bekerja. Dia juga meminta agar evakuasi korban luka disetujui sebelum terlambat.

 

174 ribu korban luka membutuhkan hampir setengah juta operasi

Di tengah krisis tersebut, Bursh mengatakan lebih dari 174.000 orang terluka sejak awal genosida. Setiap korban, menurut dia, pada awalnya membutuhkan rata-rata sedikitnya tiga kali operasi.

“Ini berarti Gaza membutuhkan hampir setengah juta prosedur bedah kompleks,” katanya, seraya menegaskan bahwa wilayah tersebut praktis tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk melaksanakannya.

Bursh memperingatkan bahwa sektor kesehatan Gaza mengalami kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis yang parah.

Dia mengatakan stok peralatan medis telah mencapai tingkat yang sangat rendah, dengan kekurangan sebesar 52 persen untuk tempat tidur dan obat-obatan penting serta 56 persen untuk perlengkapan medis.

“Tidak ada peralatan medis baru yang diizinkan masuk ke Gaza sejak dimulainya serangan Israel,” katanya.

 

Evakuasi medis masih jauh di bawah kebutuhan

Menurut laporan tersebut, sebanyak 3.423 pasien dievakuasi ke luar negeri dalam periode 10 Oktober 2025 hingga pertengahan September 2026. Jumlah itu tiga hingga enam kali lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum perang, meskipun permintaan perawatan medis di luar Jalur Gaza meningkat tajam.

Organisasi tersebut juga mengutip data Klaster Kesehatan WHO yang menyebut pasukan Israel menewaskan sedikitnya 1.422 warga Palestina dan melukai 5.150 lainnya sejak pengumuman gencatan senjata hingga akhir September 2026.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya