nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada Bisnis Bilik Kencan di Lapas Sukamiskin, Kemenhumham Diminta Evaluasi Total

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Kamis 06 Desember 2018 14:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 06 337 1987623 ada-bisnis-bilik-kencan-di-lapas-sukamiskin-kemenhumham-diminta-evaluasi-total-4Jssf9zR41.jpg Lapas Sukamiskin (Okezone)

JAKARTA - Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil meminta Kemenkumham mengevaluasi total dengan memberikan sanksi kepada oknum pejabat di Lapas Sukamiskin, Jawa Barat yang memberikan izin bisnis bilik bercinta yang dikelola suami Inneke Koesherawati, Fahmi Darmawansyah.

Kasus ini mencuat dalam sidang kasus suap mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husein di Pengadilan Tipikor, Jakarta pada Rabu 5 Desember 2018. Dalam sidang terungkap bahwa bilik kencan itu digunakan Fahmi untuk berhubungan badan saat dikunjungi istrinya dan bisa juga dipakai narapidana lainnya dengan tarif Rp650 ribu.

"Dari persidangan itu kita harapkan Kemenkumham dalam hal ini Dirjen Pemasyarakatan ya harus segera melakukan evaluasi total terkait praktik ini kenapa bisa terjadi. Jadi oknum aparat yang bermain ini harus ditindak," tegas Nasir kepada Okezone, Kamis (6/12/2018).

Nasir mengatakan bahwa Fahmi merupakan napi yang hebat bisa mengelola bilik asmara di Lapas Sukamiskin. Menurut dia, praktik esek-esek seperti itu memang sulit diketahui karena bergerak secara diam-diam.

"Hebat juga dia itu ya. Praktik ini memang terjadi memang tapi sulit dideteksi karena ini memang sangat diam-diam pekerjaannya," sambungnya.

 

Fahmi Darmawansyah (Okezone)

"Jadi sulit dideteksi kalau tidak ada pengakuan. Kalau ketahuan sudah kenikmatannya itu hilang. Ini akhirnya silent semuanya," tambah politisi asal PKS itu.

Ia menilai, praktek pengelolaan bilik asmara memang sudah kerap terjadi di lapas. Sebab itu, Nasir meminta Kemenkumham bisa melakukan pengamanan secara maksimal kepada para napi.

(Baca juga: Suami Inneke Koesherawati Punya Bilik Kencan untuk Bercinta di Lapas Sukamiskin)

"Dan memang berulang kali mau dilegalkan tapi sulit banyak mudaratnya . Harus ada pengamanan maksimum karena orang ini pinter. Mereka ini banyak akalnya makanya itu pengawasannya harus maksimum sehingga tidak ada praktek seperti itu," ujar Nasir.

Nasir menegaskan, setiap warga negara telah dibelenggu kebebasannya setelah menjadi narapidana. Terkmaksud, kata dia, kebebasan dalam memenuhi kebutuhan biologisnya.

"Bahwa mereka yang di lapas itu kemerdekaan mereka itu dibelenggu. Termaskud juga kebutuhan biologisnya dibatasi," tandas Nasir.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini