nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Taiwan Tolak Konsep "Satu Negara Dua Sistem" yang Diajukan China

Indi Safitri , Jurnalis · Kamis 03 Januari 2019 15:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 03 18 1999473 taiwan-tolak-konsep-satu-negara-dua-sistem-yang-diajukan-china-0wxT39x3jN.jpg Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen. (Foto: Reuters)

TAIPEI – Presiden Taiwan, Tsai Ing-Wen pada Rabu, 2 Januari mengatakan bahwa Taiwan tidak akan pernah menerima konsep satu negara seperti yang diusulkan oleh China. Hal tersebut disampaikan Tsai menanggapi pidato Presiden China, Xi Jinping sebelumnya yang menyatakan bahwa China tidak berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan dalam upaya menyatukan kembali Taiwan menjadi bagian dari negara itu.

Pernyatan Xi disampaikan itu di Aula Besar Rakyat di Beijing dalam rangka peringatan 40 tahun "Pesan untuk Rekan Sebangsa di Taiwan", sebuah dokumen kebijakan yang dikeluarkan pada hari di mana Amerika Serikat (AS) dan China resmi menjalin hubungan diplomatik. Hubungan itu dijalin setelah AS memutuskan hubungan formalnya dengan Taiwan.

BACA JUGA: Xi Jinping: Taiwan "Harus dan Akan" Bergabung Kembali dengan China

Sampai hari ini, AS tidak memiliki kedutaan resmi di Taipei dengan Institut Amerika menjalankan peran konsuler secara tidak resmi di Taiwan.

Meski pidato Xi sebagian besar diisi dengan seruan perdamaian, ajakan diskusi dan peningkatan kerja sama ekonomi, Tsai tampaknya tidak terbujuk. Dia menyatakan bahwa mayoritas rakyat Taiwan menolak sistem satu negara dua sistem yang diangkat oleh Xi.

“Mayoritas rakyat Taiwan sangat menentang konsep satu negara, dua sistem. Itu adalah konsensus Taiwan,” kata Tsai sebagaimana dilaporkan dari Taipei Times yang dilansir Sputnik, Kamis (3/1/2019).

Masalah konsensus memang telah banyak menyebabkan gesekan dalam urusan China dan Taiwan. Pemerintahan Tsai telah menolak untuk meratifikasi kesepakatan yang disebut dengan “Konsensus 1992”, sebuah perjanjian antara China dan Partai Nasionalis China (KMT) Taiwan yang menyatakan bahwa memang hanya ada "satu China" yang membentang di Selat Taiwan, meski kedua belah pihak mungkin memiliki gagasan sendiri tentang bagaimana negara itu seharusnya diatur.

BACA JUGA: Militer Taiwan Akan Gelar Simulasi Guna Menangkal Invasi China

Tsai juga mengecam Xi karena mengundang partai-partai politik dan kelompok-kelompok lain serta individu-individu di Taiwan untuk membahas masalah-masalah lintas selat, dengan mengatakan bahwa perundingan antara China dan Taiwan harus dilakukan pemerintah ke pemerintah, seperti antara dua negara yang setara.

“China harus mengakui keberadaan Republik China (nama resmi Taiwan) dan bernegosiasi dengan pemerintahnya, serta menghormati demokrasi yang telah diciptakan rakyatnya,” tuturnya.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini