Mantan Presiden Maladewa Terluka Akibat Ledakan Bom di Ibu Kota Male

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 07 Mei 2021 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 07 18 2407292 mantan-presiden-maladewa-terluka-akibat-ledakan-bom-di-ibu-kota-male-9c6964WRZT.jpg Mantan Presiden Maladewa Mohamed Nasheed. (Foto: Reuters)

MALE – Mantan presiden Maladewa, Mohamed Nasheed, terluka akibat ledakan bom yang terjadi di Ibu Kota Male pada Kamis (6/5/2021). Bom meledak saat Nasheed hendak masuk ke mobil di luar rumahnya.

Media lokal melaporkan alat peledak buatan sendiri ditanam di sepeda motor yang diparkir di dekatnya.

Sebuah tim dari Kepolisian Federal Australia (AFP) akan melakukan perjalanan ke Maladewa untuk membantu penyelidikan.

BACA JUGA: Pulang Haji, Kapal Rombongan Presiden Maladewa Meledak

Nasheed, (53 tahun), adalah presiden Maladewa pertama yang terpilih secara demokratis dan telah menjadi kritikus lantang terhadap kelompok Islamis garis keras. Dia memenangkan pemilihan multi partai pada 2008 tetapi digulingkan dalam kudeta empat tahun kemudian.

Saat ini Nasheed menjabat sebagai pimpinan di parlemen, yang merupakan posisi terkuat kedua di negara Samudra Hindia itu.

Ledakan itu terjadi pada 20:39 waktu setempat, tepat sebelum jam malam diberlakukan di ibu kota sebagai bagian dari tindakan untuk menahan virus corona.

Ali Azim, seorang anggota parlemen dari Partai Demokrat Maladewa (MDP), mengatakan kepada BBC bahwa ledakan itu tampaknya merupakan "serangan yang ditargetkan terhadap Nasheed". Namun, tidak ada yang mengklaim serangan itu dan tidak ada laporan penangkapan.

BACA JUGA: FBI: Tidak Ada Bom dalam Speedboat Presiden

Rumah sakit yang merawat Nasheed mengatakan dia menderita banyak luka tetapi dalam kondisi stabil.

Empat orang lainnya dilaporkan terluka, termasuk pengawal Nasheed dan orang yang lewat.

Presiden Ibrahim Solih menggambarkan ledakan itu sebagai "serangan terhadap demokrasi dan ekonomi Maladewa".

Dalam pidato yang disiarkan televisi kepada bangsa itu, Presiden Solih, mengatakan penyelidikan telah diluncurkan, dan bahwa anggota AFP akan tiba pada Sabtu (8/5/2021) untuk membantu polisi setempat.

Ini adalah kedua kalinya pihak berwenang Australia membantu Maladewa dengan dugaan upaya pembunuhan. Pada 2015, AFP dan FBI ikut serta dalam penyelidikan ledakan kapal cepat Presiden Abdulla Yameen saat itu.

Solih mengatakan penyelidikan terbaru akan "cepat dan menyeluruh" dan bahwa "pelakunya akan menghadapi kekuatan hukum penuh".

Pendukung Nasheed telah berkumpul di luar rumah sakit tempat dia dirawat. Situasi dilaporkan mencekam dan polisi dengan perlengkapan anti huru hara telah dikerahkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini