Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pramono Edhie Ikuti Jejak Ayahnya, Latihan di Nusakambangan Latihan Terakhir

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Senin, 04 Desember 2023 |05:07 WIB
Kisah Pramono Edhie Ikuti Jejak Ayahnya, Latihan di Nusakambangan Latihan Terakhir
Pramono Edhie Wibowo (Foto : Okezone.com)
A
A
A

SARWO Edhie Wibowo merupakan tokoh militer yang dikenal saat penumpasan Gerakan 30 S/PKI saat dirinya menjabat sebagai Komandan RPKAD (kini Kopassus).

Hal tersebut yang mendorong anaknya, Pramono Edhie Wibowo memutuskan untuk menjadi pasukan baret merah, Kopassus mengikuti jejak sang ayah.

Selepas menempuh pendidikan dari Lembah Tidar tahun 1980, Pramono Edhi mengikuti seleksi prajurit Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), cikal bakal korps baret merah, Kopassus.

Sebagai calon prajurit baret merah, Pramono Edhie harus melalui Tahap Basis di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Tahapan tersebut berupa keterampilan dasar, seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, dan navigasi darat.

Kemudian, dia berlanjut mengikuti Tahapan Hutan Gunung hutan kawasan Citatah, Bandung. Di sana dia digembleng untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan dan survival di tengah hutan.

Tahapan tersebut diakhiri dengan berjalan kaki ke Situ Lembang-Cilacap dengan membawa sejumlah amunisi dan peralatan yang beratnya bisa mencapai belasan kilogram. Sampai di Cilacap, prajurit kembali mendapat latihan yang cukup berat, yaitu Tahap Rawa Laut atau kemampuan berinfiltrasi melalui rawa laut.

"Latihan di Nusakambangan ini merupakan latihan tahap akhir, tak heran bila disebut Hell Week atau Minggu Neraka," ujar Pramono Edhie dikutip dari buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement