Dia menilai, perhatian negara selama ini masih banyak terfokus pada aspek administratif dan anggaran, sementara penciptaan iklim belajar yang aman, sehat, dan menggembirakan belum menjadi prioritas utama. Padahal, semangat belajar anak tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga oleh rasa aman dan diterima.
Simson mendorong pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk hadir lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari anak dan guru. Kehadiran negara, menurutnya, harus terwujud dalam bentuk pendampingan nyata, kepekaan sosial, serta respons cepat terhadap persoalan di lapangan.
“Negara harus memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan. Pendidikan harus menjadi tempat berlindung, bukan sumber tekanan,” ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya mekanisme deteksi dini di sekolah-sekolah, agar persoalan ekonomi, psikologis, dan sosial yang dialami siswa dapat diketahui sejak awal dan ditangani sebelum berujung pada tragedi.
Bagi Simson, tragedi siswa SD di Ngada bukan sekadar kabar duka, melainkan peringatan serius bahwa reformasi pendidikan harus menyentuh akar persoalan kemanusiaan. Ia berharap peristiwa ini menjadi momentum refleksi bersama bagi pemerintah, sekolah, guru, orangtua, dan masyarakat.