Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Apakah Ceramah Jusuf Kalla di UGM Menista Agama?

Opini , Jurnalis-Rabu, 15 April 2026 |15:52 WIB
Apakah Ceramah Jusuf Kalla di UGM Menista Agama?
Apakah Ceramah Jusuf Kalla di UGM Menista Agama? Foto: Okezone
A
A
A

Pada eskalasi konflik, kedua kelompok agama yang bertikai memang sama-sama menggunakan narasi “perang suci” sebagai pembenaran, yang justru memperpanjang konflik dan menimbulkan ribuan korban jiwa. Peter T. Coleman menyebut konflik Ambon sebagai “Intractable Conflict” (konflik yang sulit diselesaikan karena melibatkan seluruh lapisan masyarakat).

Lebih jauh, penulis menangkap bahwa JK tampaknya sedang berbicara membandingkan pengorbanan antara Islam dan Kristen. JK ingin menyatakan dalam Kristen juga ada tokoh-tokoh yang mati karena iman, dan itu disebut “syahid” dalam literatur sejarah perbandingan agama. Secara faktual, Gereja Katolik dan Ortodoks memang menggunakan istilah martyrs yang diterjemahkan menjadi "syuhada" dalam teks-teks berbahasa Arab-Masihi.

Bahkan dalam bahasa Indonesia, buku-buku sejarah agama kerap menyebut “Syahid Kristen” untuk merujuk pada para martir abad pertama. Ini kira-kira yang ingin dikatakan JK. Singkatnya, dalam cermahnya JK tidak berbicara dalam tataran teologis.

Jusuf Kalla, hemat penulis, tidak pernah mengatakan bahwa konsep teologisnya sama persis, atau bahwa seorang Kristen akan masuk surga dengan syahid versi Islam. JK hanya berusaha menunjukkan bahwa ada nilai heroik lintas agama. Ini ranah ilmu sosial, bukan fatwa. Tuduhan "penistaan", karenanya menjadi janggal karena yang dinista apa? Dalam hal ini, JK tidak mengubah dalil dan tidak mengubah ayat. Dengan ujaran lain, JK hanya menjelaskan cara pandang Masyarakat Muslim dan Kristen dalam konflik di Ambon dan Poso.

Mungkin cara JK dalam menjelaskan tidak merinci apakah itu ajaran atau cara pandang komunitas beda agama yang bertikai, sehingga pernyataan JK menimbulkan kesalahpahaman bagi sebagian orang yang mengabaikan konteks. Namun, JK juga menjelaskan bahwa tidak ada agama yang menganjurkan untuk membunuh. Karenanya, pernyataan JK dengan melihat konteks pernyataan itu sama sekali tidak bermaksud menistakan agama tertentu.  

 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement