Kerusuhan kemudian meluas ke sejumlah wilayah di Jakarta, terutama kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, dan Kramat. Sejumlah bangunan serta kendaraan dilaporkan terbakar.
Pemerintah Orde Baru saat itu menuding aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai pihak yang menggerakkan kerusuhan. Sejumlah aktivis kemudian diburu dan dipenjara, termasuk Budiman Sudjatmiko yang dijatuhi hukuman 13 tahun penjara.
Konflik internal PDI antara kubu Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi terus berlanjut hingga berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Setelah Soeharto mengundurkan diri dan pembatasan terhadap partai politik dicabut, Megawati mendeklarasikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan menambahkan kata "Perjuangan" untuk membedakan partainya dari faksi yang didukung pemerintah.
Megawati kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PDIP dan dicalonkan sebagai presiden pada Pemilu 1999.
Sementara Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebutkan, lima orang telah gugur, yakni Asmayadi Soleh, Suganda Siagian, Slamet, Uju bin Asep dan Sariwan, serta 23 orang lainnya hilang.