JAKARTA - Bulan kemerdekaan dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat kehidupan demokrasi, sekaligus ruang bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan bangsa.
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Agustus 2026 bukan sekadar bulan perayaan kemerdekaan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan bangsa serta merumuskan gagasan bagi masa depan Indonesia.
Menurut Fernando, kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Masyarakat, termasuk mahasiswa, memiliki hak menyampaikan pendapat, mengawasi jalannya pemerintahan, serta menyuarakan berbagai persoalan yang dirasakan publik.
Namun, menurutnya, kritik akan memiliki daya dorong yang lebih kuat jika tidak berhenti pada penolakan atau aksi massa. Kritik sebaiknya disertai data, argumentasi, kajian, dan alternatif solusi.
“Mahasiswa memiliki posisi penting dalam demokrasi. Karena itu, kritik harus tetap hidup, tetapi idealnya kritik tersebut juga mampu menawarkan gagasan dan solusi,” kata Fernando.
Fernando menilai suasana bulan kemerdekaan dapat dimanfaatkan untuk membangun energi positif di tengah berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa.
Perbedaan pilihan politik maupun pandangan terhadap pemerintah dan kebijakan, kata dia, merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan kesadaran bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki tujuan yang sama, yakni membangun Indonesia.
“Berbeda pendapat adalah hal biasa dalam demokrasi. Yang penting, jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persatuan,” ujarnya.