“Langsung kita serahkan, bukan serahkan bertahap. Ini, Nak, disimpan nanti, tabungan untuk sekolah,” ujarnya.
Mentan Amran juga berpesan agar anak-anak korban tidak menghentikan pendidikan akibat kondisi yang mereka hadapi setelah kehilangan orangtua. “Kami harapkan anak-anak yang ditinggalkan itu pendidikannya tinggi dan doakan orang tuanya yang telah gugur dalam tugas,” katanya.
Selain dukungan pendidikan, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap keberlanjutan kehidupan keluarga korban. Satu orang dari masing-masing keluarga korban mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Perum Bulog.
Mentan Amran berharap dukungan tersebut dapat membantu keluarga melanjutkan kehidupan sekaligus menjadi bentuk penghormatan pemerintah kepada para pegawai yang gugur saat menjalankan tugas.
Bagi keluarga Afrida Rapi, perhatian tersebut menjadi penguat di tengah masa sulit. Yohanis Tonglo, suami almarhumah Afrida, mengungkapkan bahwa salah satu anaknya sempat berniat berhenti kuliah agar dapat bekerja dan membantu adik-adiknya.
“Anak saya yang pertama merangkul saya dan membisikkan, ‘Pak, biar saya berhenti kuliah saja, supaya saya bisa kerja membantu adik-adik saya.’ Tapi Tuhan ternyata Maha Besar. Tuhan mengirim malaikat kepada kami lewat Pak Dirut untuk menjawab kekhawatiran kami ini,” tutur Yohanis.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Mentan Amran dan Direktur Utama Bulog atas perhatian yang diberikan kepada keluarganya.