Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kapolri: Mahasiswa Harus Jadi Agen Perubahan dan Perkuat Persatuan!

Puteranegara Batubara , Jurnalis-Senin, 28 September 2026 |12:56 WIB
Kapolri: Mahasiswa Harus Jadi Agen Perubahan dan Perkuat Persatuan!
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo
A
A
A

JAKARTA - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengajak mahasiswa untuk mengambil peran sebagai agen perubahan sekaligus menjadi pelopor dalam menjaga keamanan dan ketertiban serta memperkuat persatuan di tengah masyarakat.

Demikian disampaikan Sigit saat memberikan kuliah umum dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Tahun 2026 di Medan, Sumatera Utara, Senin (28/9/2026).

Menurut Sigit, mahasiswa memiliki posisi strategis untuk menghadirkan perubahan positif. Dengan ilmu dan kemampuan yang dimiliki, mahasiswa diharapkan tidak hanya berkontribusi di lingkungan kampus, tetapi juga mengambil peran nyata di tengah masyarakat.

“Menjadi agen perubahan, menginisiasi dan mengajak masyarakat melakukan perubahan positif serta berpartisipasi dalam pembangunan,” ujar Sigit.

Sigit mengatakan, kontribusi tersebut dapat diwujudkan sesuai bidang keilmuan masing-masing, mulai dari mendukung ketahanan pangan dan energi, transformasi digital, pemberdayaan ekonomi, hingga pelestarian lingkungan.

Di sisi lain, Sigit mengingatkan bahwa generasi muda juga memiliki peran penting dalam menjaga ruang sosial tetap kondusif. Mahasiswa diharapkan menjadi pelopor kamtibmas dan perekat persatuan dengan menjaga kerukunan serta ikut menangkal hoaks dan provokasi.

Peran tersebut semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Tingginya penggunaan ruang digital harus diikuti kemampuan berpikir kritis agar generasi muda tidak mudah terpengaruh informasi yang dapat memicu perpecahan.

Karena itu, Sigit mendorong mahasiswa untuk membangun budaya akademik yang sehat, menjaga integritas, menghargai perbedaan, dan memperkuat kolaborasi.

“Menjaga kerukunan, menangkal hoaks dan provokasi, serta mengajak masyarakat menjauhi narkoba, kekerasan, intoleransi, dan tindakan anarkis,” kata Sigit.

Lebih dalam, Sigit menegaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk melompat menjadi negara maju dengan memanfaatkan momentum bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2030–2035.

 

Ia mengatakan bonus demografi menjadi peluang strategis karena Indonesia akan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Momentum tersebut harus dimanfaatkan dengan mempersiapkan SDM yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing.

“Kesempatan ada di depan kita. Bagaimana kemudian kita bisa memanfaatkan semua, dan itu tentunya butuh kolaborasi,” ucap Sigit.

Menurut Sigit, bonus demografi tidak otomatis membawa Indonesia menjadi negara maju. Peluang tersebut harus diikuti peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kesehatan dan gizi masyarakat.

Sigit mencontohkan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan sebagai negara yang berhasil memanfaatkan momentum bonus demografi dengan memperkuat pendidikan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, serta menjaga kualitas kesehatan masyarakat.

Sebaliknya, Brasil dan Thailand menjadi contoh negara yang belum berhasil mengoptimalkan momentum bonus demografi.

Hal tersebut antara lain dikaitkan dengan belum optimalnya kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja, terbatasnya lapangan kerja berkualitas, serta perkembangan teknologi dan industri yang belum mampu meningkatkan produktivitas secara maksimal.

 

Menurutnya, pengalaman berbagai negara tersebut menjadi pelajaran penting agar Indonesia tidak menyia-nyiakan momentum bonus demografi. Terlebih, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia dan kekayaan sumber daya alam.

Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 62 juta ton atau 44,3 persen dari cadangan global. Cadangan emas Indonesia mencapai 3.600 ton dan menempatkan Indonesia pada peringkat keempat terbesar di dunia.

Pemerintah juga telah melakukan groundbreaking 26 proyek hilirisasi komoditas strategis dengan total investasi Rp231 triliun. Hilirisasi diharapkan memberikan nilai tambah bagi perekonomian sekaligus membuka semakin banyak lapangan kerja.

Di sektor energi, pemerintah menerapkan biodiesel B50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar yang diproyeksikan dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun.

“Ini semua bisa berjalan kalau kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan para cendekiawan ini bisa bersatu. Ini kuncinya,” tutup Sigit.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement