BENGKULU - Tahun 2016, 15,4 persen dari 1.904.793 masyarakat Provinsi Bengkulu berusia 35-39 tahun, merokok. Disusul, usia 25-29 tahun 14,2 persen. Kemudian, 14,0 persen usia 30-34 tahun juga kecanduan rokok.
Kelompok umur 15-19 tahun sejumlah 3,1 persen, 20-24 tahun 10,4 persen. Usia 40-44 tahun 11,0 persen, 45-49 tahun 9,4 persen, 50-54 tahun 8,4 persen, 55-59 tahun 6,2 persen dan umur 60 tahun keatas 7,9 persen. (lengkap lihat grafis,red). Bagaimana serangan rokok murah di Bengkulu?
Rokok Murah Menyasar Lingkungan Sekolah
Di tengah kampanye pemerintah atas larangan merokok. Perusahaan rokok berusaha memengaruhi pemilik warung. Mereka memberikan 'iming-iming', hadiah wow, salah satunya Makmur, pedagang beruntung.
Matahari pagi itu sudah menampakkan diri. Sisa-sisa hujan semalam di Kota Bengkulu masih membekas di jalan. Tanah terlihat lembap. Jalan Batang Hari, Kelurahan Padang Harapan, Kecamatan Ratu Agung. Di depan warung manisan milik Makmur, persisnya.
Warung itu tidak terlalu besar, pintunya rolling. Menjual berbagai jenis minuman dan makanan ringan, rokok tak ketinggalan. Semua merek rokok dijual. Pemilik warung membuat tempat nongkrong. Satu meja dan tiga kursi panjang berukuran 2 meter di samping warung.
Di depan warung itu ada tiga sepeda motor yang diparkir. Milik siswa SMA, sengaja dititip. Bangunan warung "Dika", berjarak 100 meter dari pintu gerbang sekolah setingkat SMA. Setiap hari dijaga Makmur bersama istrinya.
Pasangan suami istri (Pasutri) itu melayani setiap konsumen, duduk di dalam. Pagi itu, pria berambut pendek ini sedang membereskan barang dagangannya. Sesekali melayani pembeli, tak terkecuali siswa SMA.
Rokok menjadi pemasukan terbesar di warung Makmur. Satu hari 120 bungkus rokok terjual, bahkan lebih. Langganannya anak sekolah. Dari pagi, siang, sore dan malam. Rokok, jadi daya pikat siswa SMA. Dijual eceran, ketengan.
Per batang dijual Rp1.000, sebut saja merek rokok "A". Murah. Rokok ini sangat diminati kalangan anak sekolah. Sehari bisa menjual 100 bungkus, setara 10 pack. Selain rokok "A", merek rokok "B" juga diminati. Harganya sama, Rp1.000 per batang.
"Satu hari habis 100 bungkus. Dijual ketengan dan dijual per bungkus," kata pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini sembari menunjukkan rokok yang dijual ketengan.
Tujuh merek rokok dijual eceran di warung yang dibuka sejak 2006 ini. Selain rokok "A" dan "B". Harganya, lebih mahal Rp500. Rokok bermerek itu dijual Rp1.500 per batang. Ada peminat. Tidak begitu banyak. Khususnya anak sekolah untuk sekadar nongkrong.
Warung ini setiap hari selalu ramai. Saat pagi, ketika anak SMA mau masuk sekolah. Waktu Istirahat siang dan pulang sekolah. Tidak kurang dari 20 sepeda motor terparkir di depan warung ini. Nongkrong, sembari menghisap batang rokok.
Saat malam, lokasi ini menjadi lokasi nongkrong kalangan remaja berstatus pelajar. Tingkat SMP dan SMA. Mereka mengisap batang rokok. Dibeli eceran. Rokok "A" dan "B". Mereka membeli per batang. Terkadang, patungan membeli satu bungkus.
Mulanya, warung sekaligus tempat tinggal pasutri ini tidak menjual rokok eceran, takut rugi. Namun, menjual dengan sistem per batang, kini ada jaminan dari siswa SMA. Belum lagi rekan mereka akan membeli rokok di warung itu. Akhir 2015 persisnya. Sejak itu berbagai merek rokok dijual, ketengan, dan laris.
"Semua rokok saya buka ketengan. Kecuali rokok yang harga per bungkus Rp10 ribu," aku bapak yang dikaruniai tiga orang anak ini.
Tidak hanya jaminan siswa SMA. Perusahaan rokok ikut memberi sumbangsih "iming-iming". Hadiah 'aduhai'. Sepeda motor, kulkas, televisi, kipas angin, tape, emas, misalnya. Doorprize diberikan jika menjual produk rokok terbanyak. Sesuai batas waktu ditentukan.
Itu tidak terlepas tawaran dari tim pemasaran rokok. Produk mereka harus dijual eceran. Dibuktikan dengan bungkus rokok kosong. Temponya, tiga bulan. Pemilik warung tergiur. Berlomba-lomba menjual batang rokok, ketengan.
Pria yang akrab disapa Pakde ini, salah satunya. Sebut saja rokok "C". per bulan 400 bungkus atau setara 100 bungkus per minggu, terjual. Dari penjualan itu, ia mendapatkan Rp6 juta per bulan. Program rokok "C" berlangsung tiga bulan di tahun 2017.
Sebanyak 1.200 bungkus rokok, habis terjual. Total penjualan rokok mencapai Rp18 juta. Pria ini beruntung dan masuk katagori penjualan rokok terbanyak di Bengkulu. Kulkas, berhasil dibawa pulang. Tidak hanya merek rokok "C". Rokok "D", "E", "F" menawarkan hal serupa. Buktinya, pria ini mendapatkan hadiah. Kipas angin, setrika, tape, dan kompor gas.
Program lain. Pemasangan spanduk merek rokok. Per bulan dia mendapatkan 4 bungkus rokok dari salah satu merek rokok "C". Plus uang tunai Rp500 ribu, pada akhir tahun. Uang itu langsung masuk ke nomor rekening.
Rokok "D" pun sama. Nominalnya, Rp1 juta per tahun. Pemasangan satu spanduk berukuran sekira 3 x 1,5 meter, di depan warung. Spanduk itu dikontrak perusahaan rokok. Tidak boleh dicabut atau dilepas semasa waktu kontrak.
"Saya dapat kulkas, kipas angin, gosok-an, tape, kompor gas. Kalau kontrak spanduk habis, maka kami turunkan,'' sampai Pakde.