PURWAKARTA - Jalur Tol Cipularang, selama ini kerap menjadi perhatian serius semua pihak. Apalagi, jika menilik dari kecelakaan yang selama ini terjadi di ruas jalan bebas hambatan penghibung Jakarta-Bandung itu.
Mungkin, sejauh jauh ini jalur tol yang diresmikan sekitar tahun 2005 itu masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian pengguna jalan. Sehingga, tak jarang juga banyak masyarakat yang mengaitkan kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut dengan hal-hal mistik. Padahal, sebenarnya insiden tersebut sebagian besar karena faktor human error.

Perhatian itu, tak hanya timbul dari masyarakat. Petugas kepolisian dan pengelola jalan tol pun menyadari hal tersebut. Apalagi, dari hasil pemetaan, di jalur ini terdapat beberapa titik yang dianggap paling rawan terjadi kecelakaan (black spot). Hasil analisa, ada 10 kilometer yang paling diwaspadai. Yakni, dari mulai KM 90-KM 100 di kedua jalur.
PT Jasa Marga pun tak menampik hal itu. Justru, hal itu yang menjadi alasan pihak pengelola untuk menyiapkan serangkaian antisipasi guna meminimalisasi terjadinya kecelakaan di titik-titik rawan ini.
Baca Juga: Faktor Human Error di Balik Kecelakaan Beruntun Tol Cipularang
Manager Traffic Service PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, Ariyanto menuturkan, hasil analisa jajarannya sejauh ini, salah satu penyebab kecelakaan di jalur ini akibat banyaknya kendaraan yang bebannya melebihi kapasitas.
"Kami akui banyak pelanggaran lalu lintas dari dilakukan pengguna jalan yang melintas di jalur Cipularang," ujar Ariyanto kepada wartawan di Purwakarta.
Adapun pelanggar terbanyak, kata dia, yakji mengenai kelebihan muatan (overload). Atas dasar itu juga, pihaknya bersama jajaran kepolisian dan Dishub Jabar kembali mengintensifkan razia over dimention dan over loading (ODOL).