Livonia, Etnis Minoritas di Eropa yang Terancam Punah Akibat Penjajahan Soviet

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 23 Mei 2021 13:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 23 18 2414247 livonia-etnis-minoritas-di-eropa-yang-terancam-punah-akibat-penjajahan-soviet-btn0naqOZm.jpg Etnis Livonia mengenakan pakaian tradisional mereka. (Foto: Aldis Pinkens/BBC)

RIGA - Puluhan ribu penduduk Livonia pernah hidup bahagia di pantai barat terpencil Latvia, kawasan Baltik, Eropa utara. Namun kini, populasinya diperkirakan hanya 200 orang, menjadikannya etnis minoritas terkecil di Eropa.

Saat Davis Stalts mengingat tentang kakeknya yang seorang pelaut, digambarkan layaknya seorang pahlawan dalam cerita mitos. "Dia memiliki tangan sebesar ini dan dia terbuat dari baja."

Kami sedang duduk di Hāgenskalna Komūna, sebuah bar dan pusat budaya yang didirikan oleh Stalts di Riga, ibu kota Latvia. Tersembunyi di lingkungan yang remang-remang di tepi kiri Sungai Daugava.

BACA JUGA: Suku Anak Dalam dan Keberadaannya yang Kian Terancam

Stalts memiliki mata abu-abu dan tubuh gagah, jadi tidaklah sulit untuk membayangkan pria remaja ini mengagumi kakeknya - seorang kapten raksasa yang telah mengarungi dunia dan melewati beragam petualangan laut.

Tetapi kapten tua itu jarang berbicara dalam bahasa etnisnya. Pada waktu Stalts berusia 10 tahun, dia mulai menyadari bahwa selain beberapa kerabat, tidak ada orang lain di sekitarnya yang berbicara seperti ini. "Saya berpikir apa yang terjadi? Mengapa tidak ada yang berbicara bahasa ini? Hanya beberapa orang yang sudah sangat tua."

Faktanya, kakek Stalts adalah salah satu penutur asli terakhir bahasa Livonia, bahasa yang sekarang dianggap oleh ahli bahasa terancam punah.

BACA JUGA: Ada Dugaan Perbudakan, AS Larang Warganya Impor Kapas dari Xinjiang China

Tidak seperti bahasa Latvia, yang merupakan bahasa Indo-Eropa dari kelompok Baltik, Livonia termasuk dalam kelompok bahasa Finno-Ugric, yang sebagian besar digunakan oleh etnis minoritas di Rusia modern.

Seperti sepupunya, Finlandia dan Estonia, Livonia memiliki tata bahasa yang rumit: ada 17 ciri; seperti kata benda yang tidak memiliki gender; dan tidak ada kalimat dengan bentuk masa depan.

Berabad-abad lalu, ras nelayan Finno-Ugric ini berkembang pesat di pantai barat terpencil Latvia, dengan 30.000 orang berbicara bahasa tersebut pada abad pertengahan.

Warga Livonia dengan hati-hati melestarikan warisan unik itu saat wilayah tersebut berpindah tangan dari Jerman ke Rusia, dan akhirnya, pada awal abad ke-20, menjadi bagian dari Republik Latvia yang merdeka.

Tetapi di dekade perang dan pendudukan Soviet yang membawa represi, eksekusi, dan deportasi yang keras bagi orang Latvia dan Livonia - bagi Stalin, siapa pun yang memiliki identitas nasional yang kuat adalah ancaman. Nasib keluarga Stalts adalah bukti cobaan mengerikan yang dialami banyak orang Livonia ketika Soviet "menyapu" negara-negara Baltik saat Nazi mundur pada tahun 1944.

Menyadari kedatangan Tentara Merah, saudara laki-laki kakeknya melarikan diri dari desa asalnya Kolka dengan perahu ke Swedia bersama dengan banyak warga Livonia lainnya.

Saudara perempuannya ditangkap dan dijatuhi hukuman 25 tahun di Siberia, baru kembali pada pertengahan 1950-an setelah kematian Stalin. Suaminya, seorang polisi setempat, ditembak.

Pada saat Latvia memperoleh kembali kemerdekaannya pada 1991, komunitas Livonia telah terpecah-pecah, dan perkawinan silang dengan orang Latvia telah menyusutkan penggunaan bahasa Livonia.

Grizelda Kristiņa, penutur asli terakhir bahasa Livonia, meninggal pada tahun 2013, menyisakan segelintir orang Livonia yang hanya dapat berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Para orang tua terlalu takut akan hukuman dari Soviet jika berbicara dengan anak-anak mereka dalam bahasa Livonia.

"Karena itulah bahasa ibu kami hampir punah," keluh Stalts. "Hanya dalam waktu 50 tahun, Uni Soviet melakukan apa yang tidak bisa dilakukan 700 tahun zaman Jerman. Ini sulit, sangat sulit bagi bangsa kami."

Dia menunjukkan buku foto hitam-putih yang diambil oleh fotografer Jepang Yuki Nakamura pada tahun 2000-an: perempuan berpose di samping rumah asap yang terbuat dari perahu tua; pria kekar dengan kemeja dan jaket memperbaiki jaring ikan atau berdiri di ambang pintu, menatap lensa dengan bermartabat.

Apakah Livonia masih memiliki masa depan yang dimimpikan, saya bertanya-tanya, atau apakah sejarah telah menghancurkan warisan mereka? Untuk mengetahui lebih lanjut, saya menuju ke tanah air leluhur suku Livonia di pantai terpencil yang alami di Latvia bagian barat.

Hari sudah gelap saat bus mencapai Kolka, di utara Riga, dan hanya satu penumpang yang tersisa. Aroma getah pinus menggantung di udara asin yang lembap saat saya menyusuri jalan menuju kegelapan, deburan ombak terdengar di kejauhan.

Bendera Livonia yang secara abstrak menampilkan gambaran hutan, pasir, dan air di kawasan itu. (Foto: Alastair Gill/BBC)

D¸eneta Marinska, yang mengelola wisma tempat saya menginap, telah menyiapkan suguhan tradisional Livonia sebagai hadiah selamat datang: pai kentang dan wortel dalam kue gandum hitam yang disebut sūrkakūd, ini adalah warisan asal etnis Livonia: pai serupa juga dimakan oleh budaya Finno-Ugric di Finlandia dan, tepat di seberang perbatasan Rusia, di Karelia.

Ketika saya bertanya apakah dia mendeskripsikan dirinya sebagai orang Livonia, Marinska tertawa: "Saya… juga Livonia. Saya dibesarkan di lingkungan Latvia, tapi tentu saja saya belajar dari orang tua dan kakek nenek saya di masa kecil yang mana ada hubungannya dengan Livonia."

Tidak seperti Stalts, Marinska tidak pernah mengenal kakek Livonia-nya yang meninggal sebelum dia lahir. Neneknya orang Latvia, dan ibunya tidak pernah belajar bahasa itu. Namun, Marinska mengingat bibi buyutnya berbicara bahasa Livonia kepada sepupunya yang berkunjung. "Saya masih kecil waktu itu dan saya mendengar bahasa ini bukan bahasa Latvia. Itu aneh bagi saya, dan saya selalu ingat itu. Itu menghubungkan saya dengan akar saya."

Keesokan harinya saya meminjam sepeda dari Marinska dan berangkat ke pantai dari Tanjung Kolka, sebuah tanjung berpasir yang menandai batas antara Teluk Riga di timur dan Baltik terbuka di barat.

Secara historis, Livonia mendiami 12 desa yang membentang sepanjang 40 kilometer di selatan Kolka. Dulunya ramai dengan kehidupan, kini pedesaan memiliki rumah pertanian kayu, padang, dan lumbung kayu ini adalah rumah bagi segelintir penduduk yang menua.

Tepat di luar desa Mazirbe - yang secara historis merupakan jantung budaya Livonia - sebuah jalan setapak menuntun saya melalui bukit pasir pantai menuju hutan di belakangnya, berkelok-kelok melewati pohon cemara, dan pinus.

Setelah beberapa ratus meter, wujud-wujud hantu mulai muncul dari sela pepohonan - lambung kapal di sini, busur rusak di sana, garis besar perahu dayung yang larut di antara blueberry dan lumut. Di sini, di dalam hutan, seluruh kapal nelayan kecil membusuk.

Menurut Teiksma Pobuse, penjaga Latvia di pusat komunitas Mazirbe, kuburan perahu ini adalah simbol pedih dari bencana yang menimpa komunitas Livonia selama pendudukan Soviet.

Soviet melarang penangkapan ikan komersial, meninggalkan nelayan lokal dengan pilihan yang sulit antara bergabung dengan koperasi negara atau mencari pekerjaan di tempat lain.

"Di zaman kuno, orang Livonia akan membakar perahu tua di tepi laut," katanya. "Tapi di masa Soviet dilarang pergi ke pantai karena itu zona perbatasan. Jadi, apa yang dilakukan orang-orang? Mereka meninggalkan perahu tua mereka di hutan."

Takut akan penindasan dan lebih memilih peluang yang ditawarkan di kota-kota daripada pekerjaan pertanian kolektif, para nelayan Livonia mulai menjauh dari desa mereka untuk mencari mata pencaharian baru.

Sebelum saya pergi, Pobuse menunjukkan bendera Livonia yang berkibar dari gedung, dengan garis horizontal hijau, putih, dan biru - gambaran abstrak pantai Livonia: "Orang Livonia adalah nelayan, dan apa yang dilihat nelayan saat pergi ke laut ? Hutan hijau, pasir putih dan air biru."

Ikatan hidup Mazirbe dengan budaya mungkin memudar, tetapi seperti yang ditunjukkan oleh pusat budaya Livonia yang didanai Uni Eropa, Kolka memiliki harapan di cakrawala, terlepas dari masa lalu komunitas kecil ini yang tragis.

Faktanya, minat terhadap budaya Livonia telah bangkit kembali dalam beberapa tahun terakhir, dibantu oleh program dan kursus bahasa yang didanai oleh negara Latvia dan berbagai LSM asing.

Sadar bahwa waktu semakin singkat, banyak orang Livonia kini terhubung kembali dengan warisan linguistik mereka dalam upaya untuk mencegah budaya itu hilang selamanya.

Dan beberapa keluarga mengajarkan anak-anak mereka yang kini tenggelam dari bahasa leluhur, bahasa Livonia.

Marinska memberi tahu saya bahwa dia memilih belajar bahasa Livonia karena menurutnya itu adalah bagian penting dari identitasnya. "Karena saya mendengar bahasa ini saat masih kecil, itu ada di ingatan saya atau di otak saya," katanya. "Itu membuat saya bahagia atau bangga, saya bisa mengerti ketika seseorang berbicara. Saat kami bernyanyi bersama, itu adalah perasaan yang sangat emosional."

Karena kurang dari 30 orang Livonia saat ini yang dapat berbicara dalam bahasa ibu mereka, musik telah menjadi cara penting untuk terhubung ke warisan leluhur. Beberapa grup folk dan ansambel vokal menampilkan lagu-lagu lama untuk merayakan cara hidup tradisional Livonia.

Stalts dan pacarnya Monta Kvjatkovska, yang juga seorang Livonia, sedang berusaha untuk membuat generasi muda terlibat pula. Pasangan itu telah membentuk NeiUm, yang dia gambarkan sebagai proyek yang lebih "avant-garde": "Kami bernyanyi dalam bahasa Livonia, bercampur dengan beberapa musik elektronik dengan getaran etnik."

Sementara itu, Kvjatkovska menyelenggarakan Festival Lagu Livonia dua tahunan di Riga, yang menampilkan berbagai pertunjukan Livonia tradisional dan kontemporer. Stalts mengatakan penting "untuk membuat sesuatu yang baru, untuk membawa bangsa kita ke tahap berikutnya, untuk tetap hidup."

Bagaimana perasaan Stalts tentang masa depan komunitas Livonia? "Saya tidak tahu tentang komunitasnya," katanya, "tapi saya merasa optimis dengan Livonia. Saya rasa semakin banyak orang yang akan menemukan akar Livonia mereka dan akan memahami bahwa budaya ini penting bagi mereka."

Mungkin, sedikit demi sedikit, komunitas Livonia meletakkan fondasi yang akan mengamankan kelangsungan hidupnya.

Kembali ke Hāgenskalna Komūna di Riga, NeiUm sedang bersiap untuk membawakan lagu tradisional Livonia sebagai bagian dari malam khusus untuk menandai Velu Laiks, "waktu jiwa", periode musim gugur di mana orang Latvia dan Livonia secara tradisional mengadakan perayaan ritual untuk berkomunikasi dengan kematian.

Kvjatkovska melangkah maju dan mengambil tempatnya di samping Stalts, dan ruangan itu gelap gulita. Dikelilingi oleh lilin yang berkedip-kedip, mereka memulai lagu mereka. Dalam bait yang pelan dan merdu, mereka mengucapkan permohonan yang sungguh-sungguh kepada dewi Livonia untuk melindungi roh leluhur mereka.

Saat mendengarkannya, saya membayangkan pria dan perempuan yang pernah tinggal di pesisir Livonia bermain mengikuti irama bahasa ini, lilin-lilin yang tersebar bergetar, tetapi terus menyala. Dan lagu itu berlanjut.

1
8

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini