Melihat situasi tersebut, Partai Perindo mendorong penguatan layanan kesehatan primer, terutama puskesmas dan fasilitas kesehatan dasar, sebagai garda terdepan deteksi dini dan penanganan awal. Kapasitas surveilans, kesiapan tenaga kesehatan, serta ketersediaan layanan dasar harus dipastikan merata, khususnya di wilayah padat penduduk.
Sri Gusni menambahkan, dominasi kasus pada usia anak tidak boleh dipandang sebagai isu biasa. Ketika anak-anak menjadi kelompok paling terdampak, maka ini adalah alarm serius bagi negara untuk memastikan perlindungan kesehatan keluarga berjalan optimal, bukan sekadar respons darurat.
"Penanganan super flu tidak boleh reaktif. Kewaspadaan, pencegahan, dan deteksi dini harus menjadi strategi utama agar isu ini tidak berkembang menjadi beban kesehatan yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Vaksinasi influenza tetap menjadi langkah perlindungan penting. Riset menunjukkan bahwa vaksin influenza tetap memberikan perlindungan signifikan, dengan efektivitas sekitar 72–75% pada anak-anak dan remaja, serta 32–39% pada orang dewasa terhadap flu yang cukup parah untuk membutuhkan perawatan medis.
Pada media briefing akhir Desember lalu, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim B. Yanuarso, telah menjelaskan bahwa istilah super flu tidak serta-merta berarti fatal, namun merujuk pada potensi gejala yang lebih berat dibanding flu musiman, terutama pada anak dengan penyakit penyerta, lansia, serta pasien dengan komorbid.
Ia juga menekankan virus ini sulit dikenali secara klinis karena gejalanya menyerupai flu biasa, sehingga deteksi dini menjadi kunci pencegahan komplikasi.