“Ini adalah konfrontasi antara keyakinan dan ateisme yang dipaksakan,” katanya, sebagaimana dilansir The Singapore Post. “Antara kebebasan dan kontrol otoriter.”
Pesan Zhang tidak dibingkai dalam ideologi, tetapi dalam pengalaman pribadi. Ia menggambarkan masa lalunya bukan untuk memprovokasi emosi, tetapi untuk memperingatkan tentang pola-pola yang telah didokumentasikan.
“Saya tidak ingin apa yang terjadi di China terjadi di sini,” katanya. “Saya telah mengalaminya.” Kesaksiannya menggarisbawahi kekhawatiran yang semakin meningkat di kalangan analis keamanan dan pakar hak asasi manusia: bahwa penindasan otoriter semakin melintasi perbatasan, menantang perlindungan demokrasi.
(Rahman Asmardika)