JAKARTA - Penurunan jumlah pengangguran nasional belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya penyerapan tenaga kerja berpendidikan tinggi. Pasalnya, masih terdapat persoalan penyerapan tenaga kerja sarjana yang perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, jumlah pengangguran nasional turun dari sekitar 8,43 juta orang menjadi 7,22 juta orang.
Wakil Ketua Umum Partai Perindo Tama S. Langkun, mengapresiasi penurunan jumlah pengangguran nasional. Namun, dia menilai tren tersebut perlu dilihat secara lebih mendalam karena masih terdapat persoalan dalam penyerapan tenaga kerja berpendidikan tinggi.
“Pertama-tama tentu kita harus mengapresiasi penurunan jumlah pengangguran nasional. Dari sekitar 8,43 juta menjadi 7,22 juta orang. Ini menunjukkan bahwa ada perbaikan dalam penciptaan dan penyerapan tenaga kerja,” ujar Tama di Jakarta, Rabu (19/8/26).
Ketua Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, melanjutkan di balik penurunan pengangguran nasional terdapat kontradiksi yang perlu mendapat perhatian serius.
Berdasarkan data BPS yang sama, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana mencapai 1.033.182 orang atau sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta penganggur, meningkat signifikan dibandingkan Agustus 2022 yang berada di kisaran 7,98 persen.
“Di satu sisi pengangguran nasional turun, tetapi di sisi lain proporsi pengangguran sarjana justru meningkat. Ini sebuah kontradiksi yang harus kita baca secara serius,”ujarnya.
“Jangan sampai keberhasilan menurunkan angka pengangguran nasional justru menutupi persoalan baru, yaitu semakin banyak tenaga kerja berpendidikan tinggi yang tidak terserap,” lanjutnya.
Menurut Tama, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh sebagai persoalan struktural, terutama terkait ketidaksesuaian (mismatch) antara sistem pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, persoalan pengangguran sarjana tidak semestinya hanya dibebankan kepada lulusan.
“Jangan kita mengatakan sarjananya tidak punya kompetensi, tidak punya pengalaman, atau terlalu memilih pekerjaan. Kita harus melihat persoalan ini secara lebih adil dan struktural. Ada tanggung jawab universitas, dunia usaha, dan pemerintah,” tegasnya.
Tama mendorong tiga langkah melalui konsep “3 Link and Match”, yakni perguruan tinggi memperkuat relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha menyediakan ruang magang, apprenticeship, dan rekrutmen, serta pemerintah memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan lapangan kerja berkualitas.
“Kampus harus mulai berani mengukur dirinya dari apa yang terjadi kepada alumninya setelah wisuda. Berapa persen yang bekerja? Berapa lama masa tunggunya? Apakah pekerjaan mereka sesuai dengan kompetensinya?” ujarnya.
Di sisi dunia usaha, Tama meminta perusahaan membuka jalur transisi bagi mahasiswa dan fresh graduate, sementara pemerintah perlu menghubungkan kebijakan pendidikan tinggi dengan industri, investasi, hilirisasi, ekonomi digital, jasa profesional, industri kreatif, kesehatan, dan pariwisata yang memiliki kapasitas menyerap tenaga kerja terdidik.
“Jangan semua perusahaan meminta pengalaman kepada fresh graduate. Harus ada mekanisme yang memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman sebelum lulus. Magang harus diarahkan menjadi apprenticeship dan kalau memungkinkan berujung pada rekrutmen,” katanya.
Dia juga mengingatkan penyelesaian pengangguran sarjana tidak dapat hanya diarahkan pada kewirausahaan.
“Tidak semua sarjana harus menjadi entrepreneur. Entrepreneurship penting, tetapi negara tetap harus memastikan tersedianya lapangan kerja formal yang layak. Jangan sampai tanggung jawab penciptaan pekerjaan justru seluruhnya dibebankan kepada individu,” tegasnya.
Sebagai langkah penyelesaian jangka panjang, Tama menegaskan pentingnya keselarasan antara visi pendidikan tinggi dan ketersediaan ruang kerja di sektor riil.
“Kita tidak boleh hanya mencetak lebih banyak sarjana. Kita juga harus menciptakan lebih banyak pekerjaan yang membutuhkan sarjana,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.