nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rodrigo Roa Duterte

Silviana Dharma, Jurnalis · Sabtu 15 Oktober 2016 09:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 10 15 17 1515445 rodrigo-roa-duterte-vJ8HqiTyuj.jpg Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Bullit Marquez-AP)

Meski begitu, modal kepemimpinan dan watak Duterte yang kita kenal seperti sekarang ini terbentuk berkat pengalaman pahitnya semasa kecil. Siapa sangka, Duterte yang keras pernah mengalami pelecehan seksual? Ya, selama duduk di bangku sekolah sampai dikeluarkan dan pindah ke sekolah baru, tak pernah dia melapor pada orangtuanya.

Namun setelah cukup dewasa barulah dia mengaku pernah diperkosa oleh pastur di sekolah katolik Ateneo de Davao University (AdDU). Umurnya saat itu tidak lebih dari lima tahun. Bersikukuh menutupi seluruh kebenarannya, setelah didesak oleh Bishop Katolik Konferensi Filipina, akhirnya Duterte menyebut pelakunya adalah Romo Mark Falvey.

Rody tak membual. Pengusutan dilakukan, hasilnya mengejutkan. Pengadilan di Amerika Serikat mencatat, sedikitnya ada sembilan korban pelecehan seksual Romo Falvey di Los Angeles selama periode 1959-1975. Hal ini tidak pernah terungkap di media dan sang pastor lolos dari dakwaan karena tempatnya mengabdi, Jesuits of Society Jesus in Philippines membayar uang tutup mulut sebesar USD16 juta.

Pendidikan dan Karier

Dalam jajak pendapat The Guardian terkait 100 hari kepemimpinan Duterte, sekira 76 persen dari 1.200 rakyat Filipina yang ditanyai mengaku puas dengan kinerja sang presiden. Terlepas dari kekasaran dan kontroversinya, seorang warga dari Tacloban bernama Carla menghargai kejujurannya.

“Benar, dia memang vulgar dan ucapannya kasar. Dia bicara tanpa disaring dulu. Tetapi setidaknya dia tulus, jujur dan pekerja keras. Dia mencintai rakyat miskin dan lemah. Bahkan, dia punya selera humor yang bagus. Terlepas dari retorikanya yang sarkas dan kelakuan yang urakan, dia juga cerdas, pintar dan memiliki perencanaan yang strategis,” paparnya.

Pendapat Carla pun ada benarnya, Duterte bisa jadi adalah tokoh politik yang paling terbuka membicarakan kehidupan pribadinya. Semasa berkuliah, misalnya, dia pernah menuturkan di hadapan media bahwa dirinya pernah menembak seseorang.

Teman kuliah yang tak disebutkan namanya itu merendahkan etnis keluarga Duterte. Geram dengan hinaan SARA itu, Duterte muda lantas melepaskan tembakan. Untunglah temannya tak sampai terbunuh.

Saat insiden, ayah lima anak itu sedang menjalani tahun terakhir studi hukum di San Beda College of Law. Akibat tindakannya, dia lulus tetapi tidak diizinkan mengikuti prosesi wisuda.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini