Pemerintah mengakui bahwa mahasiswa memiliki keluhan yang perlu diperhatikan. Namun, sejumlah pejabat menyalahkan aktivis sayap kiri atas aksi kekerasan dan menuduh La France Insoumise (LFI), partai terbesar ketiga di parlemen, menghasut kerusuhan.
LFI menolak tuduhan tersebut dan menyerukan para demonstran agar tidak melakukan kekerasan.
Menteri Dalam Negeri, Laurent Nunez juga menuding kelompok sayap kiri Le Poing Leve dan Revolution Permanente mendorong kekerasan selama demonstrasi mahasiswa di pinggiran Paris. Kedua kelompok itu membantah tuduhan tersebut dan menuding pemerintah melakukan “penindakan brutal”.
Di sisi lain, mahasiswa dan serikat pekerja menuduh polisi menggunakan kekerasan secara berlebihan. Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional (IGPN), lembaga pengawas internal kepolisian Prancis, saat ini menyelidiki 36 kasus dugaan pelanggaran.
Pada Selasa, seorang polisi didakwa atas dugaan “kekerasan yang diperparah” terkait insiden di Tours pada 30 September. Dalam kejadian tersebut, seorang siswa berusia 16 tahun kehilangan satu matanya setelah terkena proyektil yang ditembakkan menggunakan LBD, senjata polisi yang dirancang untuk menembakkan peluru berdampak tidak mematikan.
Sebagai upaya merespons tuntutan mahasiswa, Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengumumkan pada Selasa bahwa pemerintah mengirimkan 3.000 guru pengganti ke sekolah-sekolah menengah yang mengalami kekurangan tenaga pengajar paling parah.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.